Menyelaraskan Pemikiran dan Perasaan
Di tengah ramainya jagat media dengan sikap tidak manusiawi Menteri Keamanan zionis Israel, beredar pula komentar julid yang mengatakan bahwa aktivis global Sumud Flotilla (GSF) bak pahlawan kesiangan.
Belum lagi umat yang menanyakan nasib donasi yang sudah mereka keluarkan untuk Gaza, ke mana perginya saat mengetahui ada lembaga yang menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi. Sungguh, kebimbangan memilih jalan kebenaran begitu kelabu bagi kebanyakan umat saat ini.
Terlepas dari komentar julid para netizen, umat perlu mendudukkan perasaan dan pemikirannya dengan standar syariat agar tidak bingung memilih lembaga tepercaya untuk menyalurkan donasi. Dalam Islam, syakhsiyyah (kepribadian) terbentuk dari pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah).
Seseorang akan dikatakan berkepribadian Islam ketika pola pikir dan pola sikapnya berlandaskan Islam, meskipun masih terdapat ketidaksempurnaan pada setiap perbuatannya. Sejatinya, seorang muslim yang berkepribadian Islam akan menjadikan dirinya memandang segala hal dalam hidup dengan kacamata syariat.
Aksi kemanusiaan GSF dan eksistensi Palestina seakan menjadi perenungan yang seharusnya bagi umat muslim tentang bagaimana posisi dirinya sebagai muslim yang diikat dengan ukhuwah islamiyyah. Akankah kita berpikir mengapa genosida yang dilakukan penjajah zionis Israel terus berlangsung tiada henti?
Tidakkah kita merasakan gemuruh dalam dada saat musuh jelas-jelas menumpahkan darah penduduk Gaza dan membunuhi banyak bayi? Keselarasan antara pemikiran dan perasaan ini tentu akan menjadi kemaslahatan yang besar bagi setiap muslim.
Jika perasaan hilang, empati dan ukhuwah akan tumpul di dalam diri. Sementara itu, jika pemikiran atau akal hilang, manusia akan menjadi tidak waras karena ketidaktahuannya.
Hal ini sejalan dengan apa yang diingatkan oleh Allah Ta’ala:
قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” [QS al-Maidah (5): 100]
Oleh karena itu, seorang muslim akan bisa menghadapi medan kehidupan dengan baik saat menjadikan syariat Islam sebagai standar hidupnya. Mirisnya, kaum muslimin abad ke-21 masih hidup dengan cara pandang sekularisme yang memisahkan antara aturan agama dan kehidupan.
Akibatnya, sistem hidup yang berjalan saat ini tidak menjadikan Islam sebagai aturan utama dalam membangun peradaban. Namun, Islam pasti akan kembali berjaya dengan izin Allah dan berdasarkan sabda Rasul-Nya.






