‘After Qurban’: Mempertahankan Semangat Pengorbanan di Luar Zulhijah
Oleh: KH Bachtiar Nasir, Pembina AQL Qurban Care
Ibadah kurban bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari komitmen panjang dalam beribadah kepada Allah.
Setelah hari-hari Iduladha berlalu, pertanyaan pentingnya adalah: apakah semangat pengorbanan itu ikut berlalu, atau justru terus hidup dalam keseharian kita?
Dalam Al-Qur’an Allah menegaskan,
“لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ”
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (QS. al Hajj [22]: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa esensi kurban bukan pada ritual lahiriah, tetapi pada kualitas hati yang mencakup keikhlasan, ketaatan, dan ketakwaan.
Maka setelah kurban selesai, yang harus dijaga bukan hanya kenangan ibadahnya, melainkan ruh pengorbanannya. Semangat kurban sejatinya adalah kesiapan untuk memberi, berkorban, dan mendahulukan Allah di atas kepentingan diri sendiri.
Hal ini bisa terus dilanjutkan dalam berbagai bentuk nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah menjaga keikhlasan dalam beramal, ringan bersedekah, serta siap mengorbankan waktu, tenaga, dan harta di jalan kebaikan.
Sikap konsisten ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
“أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ”
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit.” (Muttafaqun alaih)
Terkait hadis di atas, Imam an-Nawawi memberikan penjelasan yang sangat mendalam dan penuh makna.
Beliau berkata, “Hal itu karena dengan kontinuitas amalan yang sedikit, akan terus terjaga ketaatan, zikir, rasa diawasi (muraqabah), niat, keikhlasan, serta kesungguhan menghadap kepada Allah Ta’ala. Dan amalan yang sedikit tetapi berkelanjutan itu akan membuahkan hasil, sehingga nilainya bisa berlipat ganda, bahkan jauh melebihi amalan yang banyak namun terputus-putus.”
Artinya, ruh kurban harus dijaga dalam kontinuitas amal, bukan hanya dalam momentum musiman semata. Selain itu, semangat berbagi yang dilatih saat kurban juga sangat perlu diteruskan.
Jika saat Iduladha kita mudah memberi daging kepada fakir miskin, maka setelahnya pun kita harus tetap peka terhadap kebutuhan orang lain. Kurban mengajarkan kepada kita semua bahwa harta bukan untuk ditahan, melainkan untuk dialirkan.
Lebih dalam lagi, kurban melatih kita semua untuk melepaskan keterikatan terhadap urusan dunia. Maka setelah bulan Zulhijah berlalu, latihan spiritual ini harus tetap hidup di dalam dada.
Kita harus berani menahan diri dari hal yang haram, mengalahkan hawa nafsu, dan mengutamakan rida Allah di atas keinginan pribadi. Pada akhirnya, keberhasilan ibadah kurban tidak diukur dari banyaknya hewan yang disembelih, melainkan dari perubahan hati setelahnya.
Jika setelah kurban kita menjadi lebih ikhlas, lebih dermawan, dan lebih dekat kepada Allah, maka itulah tanda bahwa kurban kita benar-benar diterima. Semoga Allah memberikan keistiqamaan kepada kita semua untuk menjaga semangat pengorbanan ini.[]
Sumber: Syarh Sahih Muslim
🐄 AQL Qurban Care: Kurban Terbaik, Manfaat Terluas

Tunaikan kurban Anda bersama AQL Qurban Care yang amanah, tepat sasaran, dan penuh keberkahan.
📲 WA: 0857 1873 5254 📸 IG: @aql.qurbancare 🌐 www.qurbancare.org






