#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Poin Krusial Kesepakatan Iran-AS

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun, Ternate dan Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja sama Internasional MUI Pusat.

Setelah berbulan-bulan konflik yang mengguncang Timur Tengah, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan tentatif untuk mengubah gencatan senjata menjadi penyelesaian yang lebih langgeng.

Namun, seperti diungkap CNN oleh Tim Lister dkk. (29 Mei 2026), nota kesepahaman (MoU) yang diusulkan masih menyisakan banyak ketidakpastian.

Presiden Donald Trump belum menandatanganinya, dan pemimpin tertinggi Iran pun belum memberikan persetujuan.

Kantor berita semi-resmi Tasnim bahkan melaporkan bahwa teks kesepakatan “belum dimuktamadkan atau dibuat definitif.”

Poin Krusial

Isi MoU mencakup beberapa poin krusial, yakni pembukaan Selat Hormuz untuk navigasi tanpa hambatan, pencabutan blokade AS atas pelabuhan Iran, penarikan pasukan militer AS dari sekitar Iran, serta dimulainya periode negosiasi 60 hari untuk membahas program nuklir Iran, termasuk nasib lebih dari 440 kilogram uranium pengayaan tinggi yang selama ini menjadi momok bagi Washington dan Tel Aviv.

Satu hal menarik dari laporan CNN tersebut adalah klausul-klausul yang masih diperebutkan. Di satu sisi, Trump bersikuh dengan slogan “No dust, no dollars” yang berarti jika tidak ada debu (uranium yang hancur), maka tidak ada dolar (pencairan aset).

Trump menuntut agar uranium Iran diserahkan kepada AS untuk dihancurkan atau dihancurkan di tempat.

Di sisi lain, Iran dengan tegas menyatakan melalui Fars News bahwa mereka “tidak membuat komitmen apa pun dalam kesepakatan ini mengenai penyerahan stok nuklir, pemindahan peralatan, penutupan fasilitas, atau bahkan berjanji untuk tidak membangun bom nuklir.”

Iran juga menuntut pencairan aset beku (frozen assets) senilai $24 miliar dan menegaskan bahwa tanpa pembebasan sebagian aset di langkah pertama—beserta mekanisme yang jelas—”tidak akan ada kesepakatan.”

Sementara itu, AS mengaitkan pencairan aset dan pencabutan sanksi dengan pembukaan penuh Selat Hormuz.

Ironisnya, di tengah negosiasi yang rapuh ini, AS masih melancarkan serangan baru di Iran timur dan mencegat drone yang diluncurkan dari Teheran.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button