Pendidikan Minus Adab: Ilmu Melimpah tapi Kehilangan Berkah
Perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi telah mengubah wajah dunia pendidikan secara drastis.
Hari ini, ilmu pengetahuan dapat diperoleh hanya melalui sentuhan layar gawai. Sementara itu, berbagai platform digital juga menawarkan ribuan materi pembelajaran secara gratis.
Namun, di balik kemajuan tersebut muncul sebuah ironi yang nyata. Ilmu semakin mudah diakses, tetapi adab terhadap ilmu dan penghormatan kepada guru justru semakin memudar.
Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan kita. Khususnya dalam perspektif Islam yang memandang ilmu bukan sekadar informasi, melainkan cahaya (nur) spiritual.
Cahaya tersebut hanya dapat diperoleh melalui fondasi adab dan keikhlasan yang kokoh. Allah Swt. berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi-Nya. Namun, kemuliaan tersebut tidak dapat dipisahkan dari pilar keimanan dan akhlak.
Ilmu merupakan jalan utama untuk meninggikan derajat kemanusiaan. Sedangkan ulama adalah pewaris para nabi (warasatul anbiya) dan manusia terbaik karena rasa takut mereka yang besar kepada Allah Swt.
Realitas saat ini justru memperlihatkan kondisi lapangan yang memprihatinkan. Sebagian peserta didik kini lebih mudah memercayai informasi dari media sosial dibandingkan penjelasan dari gurunya sendiri.
Di sisi lain, tidak sedikit guru yang harus menghadapi rendahnya rasa hormat dari peserta didik maupun masyarakat. Padahal dalam tradisi keilmuan Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi sebagai perantara sampainya ilmu kepada generasi berikutnya.
Imam Malik pernah menasihatkan bahwa seseorang hendaknya mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu. Senada dengan itu, Ibnu Sirin berkata, “Mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”






