Rabiah ar-Ra’yi, Kisah Investasi Ilmu Terbesar Seorang Ibu dan Kembalinya sang Ayah
Farrukh adalah seorang pemuda pemberani berusia mendekati tiga puluh tahun ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di Madinah. Ia memantapkan tekad untuk membeli sebuah rumah tinggal sebagai tempat bernaung dan mencari seorang istri yang salihah demi membangun ketenteraman hidup.
Ia akhirnya membeli sebidang rumah di pusat kota Madinah. Setelah itu, ia menyunting seorang perempuan cerdas, teguh beragama, dan memiliki usia yang sebaya dengannya.
Farrukh menjalani kehidupan yang sangat bahagia bersama sang istri di rumah baru mereka. Namun pada suatu hari, Farrukh tergerak saat mendengarkan khatib di masjid mengisahkan kemenangan pasukan Islam dan memotivasi masyarakat untuk berjuang di jalan Allah.
Ia segera pulang ke rumah untuk mengabarkan kepada istrinya bahwa ia akan pergi berjuang di jalan Allah. Sang istri menanggapi dengan penuh haru, “Kepada siapa engkau akan menitipkan diriku dan janin yang sedang kukandung di dalam rahimku ini?”
Farrukh menjawab dengan penuh keyakinan, “Aku menitipkan kalian kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ia kemudian menambahkan, “Selain itu, aku meninggalkan tiga puluh ribu dinar untukmu yang kukumpulkan dari harta ganimah perang.”
Ia berpesan agar istrinya menginvestasikan dan mempergunakan harta tersebut untuk mencukupi kebutuhan diri dan anaknya sampai ia kembali dalam kondisi selamat, atau meraih mati syahid yang dicita-citakannya. Setelah menyampaikan wasiat tersebut, ia mengucapkan selamat tinggal lalu bergegas pergi menuju medan perjuangan.
Beberapa bulan setelah keberangkatan suaminya, sang istri melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Kehadiran bayi tersebut mendatangkan kebahagiaan luar biasa yang nyaris menghapus kesedihan atas perpisahan dengan suaminya.
Ia menamai putranya Rabiah. Sejak masih balita, tanda-tanda kecerdasan yang luar biasa telah tampak dengan sangat jelas pada diri anak tersebut.
Sang ibu kemudian menyerahkan Rabiah kepada para guru dan memohon agar mereka mendidiknya dengan pendidikan yang terbaik. Hanya dalam waktu singkat, Rabiah telah menguasai kecakapan membaca dan menulis secara sempurna.
Ia kemudian berhasil menghafalkan seluruh isi Al-Qur’an dan mampu melantunkannya dengan suara yang sangat merdu nan jernih. Selain Al-Qur’an, ia juga menghafalkan hadis-hadis Nabi saw. yang mudah baginya, menguasai khazanah sastra Arab, serta memahami ilmu-ilmu agama yang wajib diketahui.
Di sisi lain, sang istri terus setia menanti kepulangan suaminya, namun Farrukh tidak kunjung kembali dalam waktu yang sangat lama. Berbagai rumor dan kabar yang simpang siur mengenai nasib Farrukh mulai berdatangan ke Madinah.
Sebagian orang mengabarkan bahwa ia telah jatuh menjadi tawanan di tangan musuh, sementara sebagian lain menyebutnya masih terus konsisten berjuang di jalan Allah. Ada pula sekelompok orang yang baru kembali dari medan perang menyatakan bahwa Farrukh telah gugur sebagai syuhada.
Kabar terakhir ini lambat laun diyakini kebenarannya oleh ibu Rabiah karena suaminya telah hilang kontak selama bertahun-tahun. Hal itu membuatnya didera rasa duka dan kesedihan yang sangat mendalam.
Ketika Rabiah mulai beranjak remaja, beberapa tetangga menyampaikan saran kepada ibunya agar Rabiah mulai diajarkan suatu profesi atau perdagangan. Mereka melihat Rabiah sudah sangat mahir membaca, menulis, menghafal Al-Qur’an, serta meriwayatkan hadis.






