Ilmu dan Harta dalam Perspektif Ali Bin Abi Thalib
Saking pentingnya ilmu, Rasulullah Saw mengajarkan kepada umatnya untuk berdoa pada setiap pagi, salah satunya minta agar diberikan ilmu yang bermanfaat (ilman nafian). Karena dengan ilmu, seseorang mampu berjalan terarah karena diterangi cahaya ilmu. Tanpa ilmu, seseorang tidak akan terarah jalan hidupnya.
Dengan ilmu pula seseorang akan dimudahkan masuk surga. Nabi Saw bersabda, ”Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim).
Berkaitan keutamaan ilmu, dalam kitab Mawa’izh Al-Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfuri, menceritakan sahabat Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai seorang yang memiliki keluasan ilmu memberikan jawaban yang sangat menakjubkan kepada seseorang yang bertanya kepadanya.
Sekelompok orang Khawarij merasa iri dengan ungkapan yang menyatakan Ali bin Abi Thalib sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Mereka pun lantas mengujinya. Satu persatu dari mereka menemui Ali dan bertanya tentang keutamaan ilmu dibandingkan dengan harta.
Orang pertama dari Khawarij bertanya, “Lebih utama mana ilmu dengan harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab, ilmu merupakan pusaka para Nabi, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir’aun, dan lainnya.”
Orang kedua bertanya, “Lebih utama mana ilmu dengan harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab, ilmu dapat menjaga kamu, sedangkan harta itu kamulah yang menjaganya.”
Orang ketiga, keempat, hingga ke sepuluh juga menanyakan hal yang sama kepada Ali. Dan, Ali pun menjawab dengan penjelasan yang berbeda antara yang pertama dan kedua. “Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab, orang kaya banyak musuhnya, sedangkan orang yang kaya ilmu banyak sahabatnya.”
“Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab, harta kalau dibelanjakan menjadi berkurang, sedangkan ilmu kalau diberikan malah bertambah.” “Ilmu lebih utama daripada harta. Karena orang yang banyak harta dipanggil dengan sebutan bakhil, sedangkan orang yang banyak ilmu disebut agung.”
“Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab, ilmu tidak perlu penjagaan dari pencuri, sedangkan harta harus dijaga dari pencuri.” “Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab, pada hari kiamat orang yang banyak harta pasti akan dihisap. Sedangkan, orang yang berilmu dapat memberikan syafaat pada hari kiamat.”
“Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab, lamanya pengangguran dalam melewatkan waktu harta dapat rusak dan habis, sedangkan ilmu tidak akan rusak dan tidak akan habis.”
“Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab, harta dapat menjadikan padanya perasaan, sedangkan ilmu dapat menerangi hati.” “Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab, orang yang memiliki harta akan sering mengaku sifat ketuhanan, sedangkan orang yang berilmu dapat merealisasikan ibadah.”
Selesai menjelaskan masalah tersebut, Ali menambahkan, “Jika mereka bertanya kepadaku dari satu masalah itu, tetap aku jawab dengan jawaban yang berlainan (berbeda) selama aku masih hidup.”
Semoga Allah membimbing kita kaum muslimin untuk mencintai ilmu, semangat menuntut ilmu, dan menghormati pemberi ilmu sehingga mendapatkan ilmu yang penuh berkah dan bermanfaat untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Amin.[]
Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat






