Narkoba Mengancam Masa Depan Generasi Bangsa

Jakarta (Suaraislam.id) — Dosen Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Kota Bogor Dokter Ferdinand Rabain menyampaikan seminar bertajuk “Bahaya Narkoba bagi Masa Depan Remaja” yang diikuti para pelajar dan mahasiswa di SMK Muhammadiyah 13 Jakarta Barat, Jalan Beringin Raya No. 36, Sumur Bor, Cengkareng, jakarta barat, Senin (22/6/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa SMK Muhammadiyah 13 Jakarta Barat serta mahasiswa ADI Kota Bogor. Dalam pemaparannya, Ferdinand menjelaskan berbagai aspek terkait penyalahgunaan narkoba, mulai dari sejarah penggunaannya, faktor penyebab remaja terjerumus, hingga dampaknya terhadap kesehatan, kehidupan sosial, dan spiritual.
Menurutnya, generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi dan media digital membawa berbagai kemudahan, tetapi juga menghadirkan ancaman berupa pergaulan bebas, pornografi, dan penyalahgunaan narkoba.
“Setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda. Generasi Z dikenal lebih kreatif, kritis, dan mandiri. Namun di sisi lain, mereka juga menghadapi paparan informasi yang sangat besar sehingga rentan terhadap pengaruh negatif apabila tidak dibekali dengan iman dan ilmu yang benar,” ujarnya.
Dalam sesi materi, Ferdinand menjelaskan bahwa penggunaan zat yang memiliki efek memabukkan telah dikenal manusia sejak zaman kuno. Awalnya digunakan untuk berbagai tujuan, seperti mengurangi rasa lapar, menghilangkan rasa sakit, hingga memenuhi rasa ingin tahu. Namun, seiring waktu, penggunaan tersebut berkembang menjadi ketergantungan yang menimbulkan berbagai kerusakan.
Ia juga memaparkan sejarah perdagangan opium yang pernah berkembang di berbagai negara, termasuk di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Menurutnya, penyalahgunaan narkoba telah menjadi persoalan global yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Membahas penyebab remaja terjerumus dalam narkoba, Ferdinand menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase pertumbuhan yang kompleks. Perubahan hormon, kondisi mental yang belum stabil, kecenderungan mencari sensasi baru, serta pengaruh teman sebaya menjadi faktor yang sering mendorong seseorang mencoba narkoba.
“Remaja cenderung ingin mencoba hal-hal baru dan menantang. Ketika tidak memiliki kontrol diri yang kuat, mereka lebih mudah terpengaruh lingkungan yang buruk,” katanya.
Selain faktor lingkungan, ia juga menyinggung adanya faktor keturunan yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami ketergantungan terhadap alkohol maupun narkoba apabila terdapat riwayat penyalahgunaan zat narkoba dalam keluarga.
Dari sisi hukum, Ferdinand menegaskan bahwa penyalahgunaan narkoba merupakan tindak pidana yang dilarang oleh peraturan perundang-undangan di Indonesia. Sementara dalam perspektif Islam, narkoba termasuk dalam kategori zat memabukkan yang hukumnya haram.
Mengutip firman Allah dalam QS. Al-Maidah ayat 90–91, ia menjelaskan bahwa khamr dan segala sesuatu yang memabukkan merupakan perbuatan setan yang dapat menimbulkan permusuhan, kebencian, serta menjauhkan manusia dari mengingat Allah.
“Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr hukumnya haram. Islam tidak hanya melarang karena dampaknya pada tubuh, tetapi juga karena merusak akal, moral, dan agama seseorang,” tegasnya.
Ferdinand juga mengingatkan bahwa penyalahgunaan narkoba sering kali berkaitan dengan berbagai penyimpangan perilaku lainnya, seperti seks bebas dan tindak kriminal. Menurutnya, perubahan pola hidup akibat narkoba dapat mendorong seseorang terlibat dalam perilaku berisiko yang merusak masa depan.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sejumlah dampak fisik akibat narkoba, antara lain kerusakan otak permanen, gangguan fungsi hati, hepatitis, kerusakan paru-paru, peradangan jantung, hingga gejala putus zat (sakaw). Dari sisi psikologis, pengguna narkoba dapat mengalami ketergantungan berat, gangguan mental, depresi, bahkan muncul keinginan untuk mengakhiri hidup.
Sementara dari sisi sosial, penyalahgunaan narkoba dapat menyebabkan seseorang menjadi antisosial, terlibat tindakan kriminal, kehilangan pekerjaan, putus sekolah, mengalami konflik keluarga, hingga ketergantungan ekonomi demi memenuhi kebutuhan membeli narkoba.
“Tidak ada masa depan yang cerah bagi orang yang mempertahankan ketergantungan narkoba. Yang rusak bukan hanya kesehatannya, tetapi juga hubungan keluarga, pendidikan, ekonomi, dan agamanya,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Ferdinand juga menyinggung tingginya angka penyebaran HIV/AIDS yang menurutnya berkaitan erat dengan perilaku seks bebas. Ia mengingatkan peserta agar menjaga diri dari pergaulan bebas dan berbagai bentuk penyimpangan seksual yang dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan maupun kehidupan sosial.
Menutup seminarnya, Ferdinand mengajak para peserta untuk menjaga diri dengan memperkuat keimanan, memperbanyak ilmu yang bermanfaat, memilih lingkungan pergaulan yang baik, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Mengutip QS. Asy-Syams ayat 10, ia menegaskan bahwa keberuntungan sejati diperoleh oleh orang yang mampu membersihkan dan menjaga jiwanya dari berbagai keburukan.
“Benteng terbaik bagi remaja bukan sekadar pengawasan orang tua atau aturan sekolah, tetapi iman yang hidup dalam hati. Ketika iman kuat, seseorang akan mampu mengatakan tidak kepada narkoba dan segala bentuk kemaksiatan,” pungkasnya.
rep : zakariya






