Menyelamatkan Keluarga dari Fitnah Akhir Zaman
Oleh: Muhammad Iskak (Aktivis Muslim Peduli Umat)
Khotbah Jumat Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menganugerahkan nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Kaum muslimin, di sisa umur yang singkat ini, penting bagi kita untuk melihat kembali keadaan di dalam rumah tangga kita.
Mari bayangkan wajah mungil anak-anak kita saat baru dilahirkan ke dunia dalam keadaan suci, bersih, dan tanpa noda.
Rasulullah saw. mengingatkan bahwa setiap anak terlahir di atas fitrah yang suci. Anak-anak Laksana kain putih bersih yang Allah Swt. titipkan kepada kita sebagai amanah sekaligus ujian hidup yang paling nyata.
Namun hari ini, mari kita jujur memandang keadaan di luar rumah kita. Anak-anak kita tidak tumbuh di lingkungan yang ramah, melainkan di tengah ancaman sistem pergaulan yang rusak secara terstruktur.
Dahulu, bahaya mengintai anak-anak ketika mereka keluar dari rumah. Saat ini, musuh telah menyelinap lewat pintu kamar yang terkunci melalui layar gawai di genggaman mereka.
Sekularisme—yaitu paham yang memisahkan agama dari kehidupan—telah menjauhkan anak-anak dari Allah Swt.
Agama hanya diajarkan di atas kertas ujian, tetapi asing dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Atas nama kebebasan dan hak asasi manusia yang kebablasan, pemikiran menyimpang seperti LGBT dipromosikan secara halus melalui musik, film, dan media sosial.
Kondisi ini diperparah oleh ancaman gim daring (game online) yang melalaikan serta judi daring (judi online) yang merusak mental generasi muda.
Masyarakat pun perlahan kehilangan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Budaya amar ma’ruf nahi munkar digantikan oleh sikap acuh tak acuh dengan anggapan “yang penting bukan anak saya”.
Padahal, ketika lingkungan sekitar telah membusuk, pembusukan itu hanya tinggal menunggu waktu untuk merembet ke dalam rumah kita.






