INTERNASIONAL

Eropa Membara: Apa Saja yang Kita Ketahui Sejauh Ini?

Dari rekor kebakaran hutan hingga ribuan kematian akibat cuaca panas, Eropa sedang berjuang menghadapi salah satu darurat iklim terparahnya.

JAKARTA (Suaraislam.id) — Gelombang panas intens menerjang sebagian besar wilayah Eropa pada akhir Juni dan Juli, membawa suhu udara ke angka rata-rata yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di Prancis, bulan Juni mencatatkan rekor sebagai bulan terpanas dengan suhu rata-rata 3,8°C di atas rata-rata musiman periode 1991–2020, sementara beberapa wilayah melampaui suhu 40°C.

Suhu yang jauh di atas norma musiman ini memicu kebakaran hutan mematikan di beberapa negara.

Lebih dari 325.000 orang terpaksa melarikan diri dari rumah mereka saat kebakaran hutan yang bergerak cepat terus berkobar di barat daya Prancis dan sebagian wilayah Spanyol.

Di Prancis, pihak berwenang telah mengevakuasi lebih dari 250.000 warga, dengan kobaran api terbesar di departemen Gironde barat daya membakar 42.000 hektar lahan. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menggambarkan situasi tersebut sebagai hal yang “luar biasa”.

Spanyol juga sedang berjuang melawan beberapa kebakaran hutan besar, dengan sekitar 75.000 orang dievakuasi dari wilayah Madrid, Avila, Toledo, dan Valencia. Satu orang tewas di dekat Valencia, sementara dua petugas pemadam kebakaran gugur saat berjuang memadamkan api di dekat Bordeaux, Prancis.

Kobaran api tersebut juga menghasilkan pyrocumulonimbus yang langka, yaitu awan badai raksasa akibat kebakaran yang mampu menciptakan angin dan petirnya sendiri, sehingga meningkatkan risiko kemunculan titik api baru.

Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa gelombang panas lainnya diperkirakan akan melanda barat daya Prancis pekan ini, dengan perkiraan suhu mencapai 40°C.

Kerugian Ekonomi Kian Meningkat

Para pejabat Prancis menyampaikan bahwa bencana kebakaran ini dengan cepat berubah menjadi krisis ekonomi sekaligus krisis lingkungan.

Menteri Ekonomi Roland Lescure menyatakan bahwa kebakaran hutan telah menghantam perekonomian negara “seperti petir”, yang memicu pertemuan darurat dengan para perwakilan dari sektor pariwisata, energi, asuransi, dan telekomunikasi.

Lebih dari 13.000 bisnis telah dievakuasi di Gironde saja, sementara perusahaan yang terdampak langsung maupun tidak langsung oleh kebakaran akan berhak mengikuti skema pengangguran parsial di Prancis.

Pihak berwenang juga mengumumkan bahwa perusahaan asuransi akan menanggung biaya akomodasi sementara bagi warga yang dievakuasi di Gironde, Landes, dan Var hingga tiga minggu, meskipun rumah mereka luput dari kerusakan.

Para ekonom memperingatkan bahwa bencana iklim yang semakin sering terjadi kemungkinan besar akan mengubah bentuk sektor-sektor utama, termasuk pertanian, pariwisata, dan infrastruktur.

“Isu ketahanan akan menjadi semakin penting,” kata Mathieu Plane, wakil direktur French Economic Observatory (OFCE), kepada radio France Inter, seraya memperingatkan bahwa gelombang panas dan kebakaran hutan yang berulang akan membutuhkan adaptasi jangka panjang di seluruh sektor ekonomi.

1 2Laman berikutnya
Back to top button