Jihad Islam Bantah Klaim Kesepakatan, Hamas Syaratkan Pasukan Israel Angkat Kaki
JAKARTA (Suaraislam.id) — Anggota delegasi perunding Hamas, Ghazi Hamad, menegaskan bahwa tidak akan ada langkah pelucutan senjata sebelum pasukan pendudukan Israel ditarik sepenuhnya dari Jalur Gaza.
Hamad menyebut isu pelucutan senjata berkaitan langsung dengan penarikan penuh pasukan Israel serta dimulainya proses rekonstruksi wilayah yang hancur.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Jazeera, Hamad menegaskan bahwa Israel tidak memiliki hak maupun peran dalam proses pelucutan senjata. Pelaksanaan seluruh proses tersebut nantinya berada di bawah kewenangan komite nasional Palestina.
Ia menekankan bahwa Hamas tidak akan melucuti persenjataannya sebelum Israel memenuhi seluruh kewajiban sesuai kesepakatan.
“Selama pasukan pendudukan belum sepenuhnya memenuhi kewajibannya dalam kesepakatan, kami tidak akan mengambil langkah apa pun terkait pelucutan senjata perlawanan,” ujar Hamad.
Hamad menggambarkan proses perundingan sebagai dinamika yang sangat sulit dan berat. Meski demikian, Hamas tetap berkomitmen menjaga hak-hak dasar rakyat Palestina.
Ia juga menyoroti rekam jejak Israel yang telah melakukan sekitar 3.500 pelanggaran pada tahap pertama Perjanjian Sharm el-Sheikh. Menurutnya, karakter agresor membuat Tel Aviv sangat tidak dapat dipercaya.
“Israel adalah negara agresor yang dibangun di atas pengkhianatan dan pembunuhan. Karena itu, mereka tidak mematuhi kesepakatan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Hamad turut menyampaikan apresiasi kepada Mesir, Qatar, dan Turkiye atas upaya mediasi mereka.
Baca juga: Hamas Setujui Kesepakatan Tahap Kedua Gencatan Senjata Gaza, Syaratkan Kepatuhan Total Israel
Jihad Islam Sebut Kabar Kesepakatan Tidak Akurat
Sementara itu, Gerakan Jihad Islam Palestina membantah narasi yang menyebutkan bahwa kesepakatan akhir antara faksi-faksi Palestina dan Israel telah tercapai.
Melalui pernyataan tertulisnya, juru bicara Jihad Islam menegaskan bahwa informasi yang beredar di media massa tidak mencerminkan kenyataan di lapangan.
“Informasi yang diumumkan mengenai adanya kesepakatan antara faksi-faksi Palestina dan musuh tidak akurat. Kami memiliki keberatan terhadapnya dalam bentuk yang saat ini beredar,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Jihad Islam menggarisbawahi bahwa faksi perlawanan masih keberatan terhadap sejumlah poin draf yang dinilai menguntungkan pihak pendudukan.






