Pentingnya Tauhid dalam Kehidupan Umat
Oleh: Nuim Hidayat (Direktur Forum Studi Sosial Politik)
Perbedaan orang-orang kafir dan Islam adalah dalam masalah tauhid. Tauhid adalah keyakinan tidak ada Tuhan selain Allah Swt. Seorang Muslim dalam menjalani kehidupan dunia ini karena Allah Swt. semata.
Ia mengharapkan Allah Swt. yang memberikan jalan keluar semua problematikanya. Selain itu, ia menjalani kehidupannya dengan berpegang teguh pada perintah-perintah-Nya, juga perintah utusan-utusan-Nya.
Sedangkan orang-orang kafir—karena keyakinan kepada Tuhan rendah dan ada yang tidak percaya kepada Tuhan—maka mereka menjalani kehidupan menurut akal dan hawa nafsunya belaka. Hawa nafsu dan setan telah menyelubunginya sehingga mereka benci kepada Al-Qur’an dan Nabi Muhammad. Mereka lebih memilih mengikuti akal dan hawa nafsunya daripada mengikuti ajaran mulia dari Al-Qur’an dan Rasulullah saw.
Maka jangan heran kaum kafir membela LGBT, melakukan perzinahan ketika berumur belasan tahun, dan membela Israel yang jelas-jelas zalim serta membunuhi ratusan ribu Muslim Palestina. Mereka juga memeras negara-negara miskin, mengadu domba kaum Muslim (Sunni dan Syiah), dan seterusnya.
Kaum kafir mempunyai keyakinan yang rendah (atau tidak percaya) adanya akhirat dan adanya kehidupan setelah mati. Ketidakpercayaan ini membawa mereka menikmati dunia dengan sepuas-puasnya dan membangun dunia ini seindah-indahnya. Mereka melakukan hal tersebut walaupun dengan cara menipu, memeras, membunuh, atau melakukan kezaliman yang lain.
Lihatlah Amerika dan Israel sebagai dua negara yang haus darah umat Islam, haus tanah, dan haus uang. Dua negara itu tidak peduli dengan kondisi negara lain, di mana yang penting bagi mereka negaranya makmur, teknologinya berkembang, dan rakyatnya sejahtera. Mereka sama sekali tidak peduli negara lain miskin, rusak negaranya, dan penduduknya kelaparan.
Contoh terbaik dalam hal ini adalah masalah Gaza. Penduduk Gaza yang berjumlah sekitar 2 juta orang kini dalam kondisi menderita akibat kelaparan, kesakitan, dan kehausan tiap hari. Bahkan, kematian pun mereka lihat hampir tiap hari.
Tapi apa yang dilakukan negara-negara kafir itu seperti Amerika dan Israel? Mereka telah hilang nuraninya karena akalnya mungkin pintar, tapi akhlaknya buruk; bukan hanya buruk, tapi buruk sekali. Mereka bekerja sama menghancurkan ‘negara‘ kaum Muslimin Palestina agar hancur sehancur-hancurnya sehingga tidak ada lagi negara Palestina.
Kepekaan nuraninya telah hilang karena setan dan hawa nafsu telah menjadi Tuhan mereka. Sehingga tidak peduli lagi mereka membunuh para dokter, wartawan, anak-anak, wanita, dan lain-lain. Mereka tidak peduli jutaan manusia memprotes tindakan mereka, sebab yang penting bagi mereka negaranya aman dan maju tanpa peduli negara lain menderita.
Negara-negara kafir Eropa juga demikian, di mana mereka tidak berani melawan Amerika. Amerika bagi mereka adalah Tuan Besar yang dianggap sebagai negara teladan karena teknologinya maju, ilmu pengetahuannya berkembang, dan ekonominya hebat.
Begitulah manusia atau negara bila tauhid hilang dalam kehidupan. Mereka menilai negara hebat adalah karena bangunannya indah, gedung-gedungnya tinggi, jalanan berhias lampu warna-warni, militernya kuat, dan sejenisnya. Mereka lupa bahwa menilai manusia atau negara itu jangan aksesori atau penampakan luarnya semata.
Menilai manusia jangan dari pakaian, gelang, kalung, atau perhiasan yang dipakainya, melainkan harusnya pada perilakunya dan pada akhlaknya. Begitu juga menilai negara, jangan dari gedung-gedung dan teknologi militernya. Tapi lihatlah akhlak atau perilaku manusia di negara itu.
Bila sebuah negara zalim kepada rakyatnya sendiri dan juga zalim kepada negara-negara yang lain, berarti negara itu negara bobrok. Negara itu adalah negara yang rusak dan merupakan negara setan. Tidak salah bila pemimpin-pemimpin Iran menyatakan bahwa Amerika adalah The Great Satan, persis dengan negara Israel.
Manusia yang punya jiwa tauhid tidak tertipu dengan penampakan luar manusia atau negara. Manusia tauhid melihat segala sesuatunya dengan sinar dari wahyu dan akal yang sehat. Al-Qur’an mengajarkan kepada manusia untuk melihat segala sesuatunya dari lahir dan batin; yang tampak dan yang tidak tampak, yang nyata dan yang gaib, serta yang terlihat mata dan yang tidak terlihat.






