NUIM HIDAYAT

Pentingnya Tauhid dalam Kehidupan Umat

رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan aku (iblis) sesat, pasti aku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr: 39).

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ ۝ فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُم بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ۝ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ ۝ فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati. Maka mengapa ketika siksaan Kami datang kepada mereka, mereka tidak memohon dengan rendah hati? Tetapi hati mereka telah menjadi keras dan setan menjadikan mereka memandang indah apa yang selalu mereka kerjakan. Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan bagi mereka pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan), sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An’am: 42–45).

Tauhid membawa hidup kita terarah dan tidak sembarangan. Kita menjadi terdorong untuk senantiasa berbuat kebaikan dan takut berbuat kejahatan. Sebab semua amal kita di dunia ini akan ditimbang atau dihitung di hari pembalasan (yaumul hisab).

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ ۝ فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, agar diperlihatkan kepada mereka amal-amal mereka. Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.” (QS. Az-Zalzalah: 6–8).

Sebenarnya hanya orang bodoh yang tidak percaya kepada Allah Swt. dan hari pembalasan (akhirat). Orang yang tidak percaya pada kedua hal ini, hidupnya menjadi sembarangan. Sebagai ganti menyembah Allah Swt., mereka menyembah iblis yang dapat menjelma menjadi patung, matahari, atau makhluk lain.

Orang yang menyembah iblis, perilakunya menjadi rusak karena ia hanya berfokus pada keuntungan dirinya. Ia sama sekali tidak peduli orang lain mau mati, sakit, atau miskin.

Lihatlah perilaku pemimpin Israel dan Amerika yang tidak peduli kesengsaraan yang diderita oleh penduduk Muslim Gaza. Meski jutaan penduduk dunia telah protes kepada mereka, mereka tidak peduli. Hati nurani telah hilang dalam diri mereka karena diselimuti perilaku iblis yang senang menentang perintah Allah Swt. dan senang melihat penderitaan manusia lain.

Iblis berfokus pada dirinya sendiri dengan menyembah dirinya sendiri dan tidak mau menyembah atau beribadah kepada Allah Swt. Perilaku iblis di antaranya meliputi:

Pertama, iblis sombong dan membangkang.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34).

Kedua, iblis bertekad menyesatkan manusia.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ۝ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Ia berkata, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’” (QS. Al-A’raf: 16–17).

Ketiga, setan menghiasi keburukan.

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُم بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka mengapa ketika siksaan Kami datang kepada mereka, mereka tidak memohon dengan merendahkan diri? Tetapi hati mereka telah menjadi keras dan setan menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 43).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button