Pentingnya Tauhid dalam Kehidupan Umat
Al-Qur’an dengan menarik menyatakan:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (menjadi penghuni) Jahanam. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).
Ya, kaum kafir telah hilang nuraninya. Matanya tersilau dengan kemajuan teknologi Amerika dan Israel, pendengarannya tersilau dengan musik dan film mereka, serta hatinya tersilau dengan kata-kata dan buku-buku yang dibuat mereka. Bangsa Barat telah hilang nuraninya, sebagaimana negara-negara penindas Muslim yang lain seperti Cina, India, dan Myanmar.
Ketika nurani kehilangan cahaya tauhid, maka manusia menjadi bengis dan kejam sebagaimana setan/iblis. Memang setan bisa membisikkan kepada manusia agar melihat yang baik itu buruk dan melihat yang buruk itu baik.
Al-Qur’an menyatakan:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7).
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
“Katakanlah, ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS. Al-An’am: 50).
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
“Katakanlah, ‘Siapakah Tuhan langit dan bumi?’ Katakanlah, ‘Allah.’ Katakanlah, ‘Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun mudarat bagi dirinya sendiri?’ Katakanlah, ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Atau samakah kegelapan dengan cahaya? Atau apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?’ Katakanlah, ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa, Mahaperkasa.’” (QS. Ar-Ra’d: 16).
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ أُخْرَىٰ ۚ وَإِن تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَىٰ حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۗ إِنَّمَا تُنذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ ۚ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفْسِهِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil orang lain untuk memikul bebannya itu, tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun yang dipanggilnya itu kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanyalah orang-orang yang takut kepada Tuhannya, sekalipun mereka tidak melihat-Nya, dan mereka melaksanakan salat. Dan barang siapa menyucikan diri, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali.” (QS. Fathir: 18).
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَىٰ رَبِّهِمْ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ٢٣ مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالْأَعْمَىٰ وَالْأَصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ ۚ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ٢٤
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya. Perumpamaan kedua golongan itu seperti orang yang buta dan tuli dengan orang yang melihat dan mendengar. Apakah kedua golongan itu sama keadaannya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?” (QS. Hud: 23–24).
تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أَمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Demi Allah, sungguh Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, tetapi setan menjadikan perbuatan mereka terasa indah bagi mereka. Maka dia menjadi pelindung mereka pada hari ini, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. An-Nahl: 63).
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ
“Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS. An-Naml: 24).






