Pentingnya Tauhid dalam Kehidupan Umat
Penyembahan kepada setan/makhluk ini menyebabkan seseorang akhirnya jauh dari Allah Swt. Ketika itulah manusia akhirnya menjadi budak setan/iblis sehingga pikiran dan perilakunya memuakkan. Tidak ada kata ikhlas dalam dirinya, di mana yang ada hanyalah pamer kepada manusia ketika berbuat baik.
Ketika tidak ada manusia lain, perilaku buruknya muncul akibat egonya yang menguasai dirinya. Ia memegang prinsip: yang penting aku kaya biar yang lain miskin, yang penting aku gembira biar orang lain menderita, dan yang penting aku menang biar orang lain kalah serta sengsara (doktrin militer yang membahayakan).
Jiwa tauhid berarti jiwa yang tunduk pada perintah Allah Swt. serta jiwa yang ikhlas ingin selalu beribadah kepada Allah Swt. Jiwa tauhid lawannya jiwa syirik/musyrik, yaitu jiwa yang ingin menyembah iblis/setan dan menyembah hawa nafsunya. Al-Qur’an dengan tegas menyuruh manusia agar menyembah Allah Swt. semata, tidak menyembah iblis, setan, atau hawa nafsu.
Firman Allah Swt.:
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, wahai anak cucu Adam, agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, ia adalah musuh yang nyata bagimu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku (Allah). Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin: 60–61).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا
“Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai ayahku, sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak sampai kepadamu. Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.’” (QS. Maryam: 42–44).
Jadi para nabi—manusia teladan yang diturunkan Allah Swt.—semua menyuruh menyembah kepada Allah Swt. dan menjauhi kemusyrikan. Mereka mengajarkan untuk menjauhi menyembah selain Allah Swt., apakah menyembah kepada patung (Hindu/Buddha), matahari (Shinto), atau manusia (Kristen/Katolik). Kaum Yahudi tidak menyembah Allah Swt., tapi menyembah Yahweh/Adonai/Hashem.
Kaum Yahudi dalam sejarah manusia tercatat sebagai manusia yang paling sombong di dunia, bahkan mereka bisa dikatakan sebagai iblis yang menjelma menjadi manusia. Lihatlah kelakuan pemimpin-pemimpin Yahudi Israel yang telah membunuh ratusan ribu manusia, tetapi tetap merasa benar.
Mereka mengolok-olok orang-orang yang berani melawannya (Hamas) sebagai teroris, padahal merekalah teroris yang sebenarnya. Negara yang mereka dirikan (Israel) dibangun dengan membunuh ribuan Muslim dan mengusir jutaan kaum Muslim Palestina.
Maka jangan heran Al-Qur’an mengecam keras perilaku kaum Yahudi (Israel). Allah Swt. berfirman:
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ
“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS. Al-Ma’idah: 78).






