Hari Masjid Sedunia, Wantim MUI Serukan Persatuan Umat dan Pembebasan Al-Aqsha
Bogor (Suaraislam.id) – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhyiddin Junaidi, menyerukan agar Hari Masjid Sedunia dijadikan momentum penyatuan umat Islam dunia untuk memperjuangkan pembebasan Masjid Al-Aqsha dari penjajahan Israel. Menurutnya, masjid tidak boleh dipersempit hanya sebagai tempat ibadah ritual, melainkan harus kembali menjadi pusat peradaban, sosial, ekonomi, dan politik umat.
Seruan tersebut disampaikan Kiai Muhyiddin dalam peringatan Hari Masjid Sedunia, Jumat (21/8/2026), yang setiap tahun diperingati untuk mengenang peristiwa pembakaran Masjid Al-Aqsha pada 21 Agustus 1969 oleh ekstremis Zionis. Hari penting itu digagas Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sebagai simbol solidaritas dunia Islam terhadap Al-Aqsha.
Kiai Muhyiddin menegaskan bahwa fungsi masjid sejak masa Rasulullah SAW adalah sebagai melting pot atau berkumpulnya umat, tempat lahirnya kekuatan kolektif yang membangun peradaban Islam.
“Masjid dan Islamic Center bukan hanya sekadar tempat melaksanakan ibadah ritual, tetapi harus diberdayakan sebagai pusat penggerak seluruh aktivitas sosial, ekonomi, budaya, bahkan peradaban umat,” tegasnya.
Ia menilai jamaah masjid harus naik kelas, dari sekadar jamaah shalat menjadi jamaah yang aktif memakmurkan seluruh agenda keumatan. Kepedulian terhadap warga sekitar, penguatan struktur sosial Islami, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat dinilai harus berawal dari masjid.
Dalam pandangannya, situasi geopolitik global saat ini membuka peluang baru bagi perjuangan pembebasan Al-Aqsha. Kiai Muhyiddin menyebut kekuatan Israel dan Amerika Serikat tengah mengalami kemunduran sehingga umat Islam harus memanfaatkan momentum tersebut dengan memperkuat persatuan.
“Masjid Al-Aqsha sudah sepantasnya terbebas dari kungkungan Zionis Israel agar umat Islam dunia dapat beribadah tanpa hambatan keamanan maupun tekanan politik,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh perbedaan mazhab fikih maupun kepentingan politik internal umat Islam dikesampingkan demi satu agenda besar: pembebasan Al-Aqsha. “Isu Sunni Syiah yang merupakan produk Zionis global untuk melemahkan persatuan umat harus dihentikan dan itu bagian dari Islamofobia,” ungkapnya.
Baca juga: Hari Masjid Sedunia, API Jabar Serukan Khatib Jumat Gaungkan Pembebasan Al-Aqsha
Kiai Muhyiddin juga mengusulkan perubahan besar dalam tata kelola Masjid Al-Aqsha. Jika selama ini pengelolaan situs suci tersebut berada di bawah otoritas Kerajaan Yordania melalui pengawasan Waqf Islam, menurutnya kini sudah saatnya mandat penuh diserahkan kepada Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Ia berpendapat Al-Aqsha merupakan milik seluruh umat Islam dunia sehingga pengamanan, pengelolaan, pemeliharaan situs sejarah, hingga pendanaan seharusnya berada di bawah lembaga kolektif negara-negara Muslim.
“Al-Aqsha adalah milik umat Islam dunia. Pengamanan, pengelolaan, anggaran, hingga pelestarian warisan budaya Islam harus menjadi kewenangan penuh OKI,” katanya.
Tak hanya itu, ia bahkan mendorong pembentukan pasukan militer dan keamanan OKI agar segera difungsikan sebagai instrumen perlindungan terhadap kawasan suci umat Islam.
Dalam pernyataannya, Kiai Muhyiddin turut mendesak negara-negara Muslim memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk menghindari kekacauan dan perpecahan berkepanjangan sekaligus memperkuat tekanan internasional terhadap pendudukan Israel di Palestina.
Baginya, Hari Masjid Sedunia bukan sekadar mengenang tragedi pembakaran Al-Aqsha, tetapi menjadi panggilan bagi umat Islam untuk mengembalikan masjid sebagai pusat kebangkitan peradaban sekaligus memperjuangkan kemerdekaan Palestina yang di dalamnya ada salah satu masjid suci umat Islam. []






