NUIM HIDAYAT

Jadikan Al-Qur’an sebagai Panduan Berpikir

Oleh: Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. untuk menjadi pedoman hidup manusia. Al-Qur’an tidak sekadar untuk dibaca atau dipahami maknanya, melainkan wajib dijadikan panduan hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam istilah ulama besar Sayyid Qutb, Al-Qur’an harus menjadi komandan kehidupan kita. Apa yang diperintahkan Al-Qur’an harus segera dilaksanakan dan apa yang dilarang harus segera ditinggalkan, sebagaimana diteladankan Rasulullah saw. bersama para sahabatnya.

Ketika perintah salat turun, para sahabat segera melaksanakan salat lima waktu. Begitu juga ketika turun perintah zakat, mengenakan jilbab bagi perempuan, meninggalkan zina, mencuri, riba, serta minuman keras yang dilarang secara bertahap.

Untuk dapat mengamalkan Al-Qur’an tentu harus memahami makna ayat tersebut. Di sinilah banyak umat Islam keliru, sebab sebagian besar mencukupkan diri dengan membaca atau menghafal tanpa memahami maknanya. Membaca Al-Qur’an tanpa tahu artinya memang bernilai pahala, tetapi membacanya beserta makna pahalanya jauh lebih besar. Bahkan ada ahli yang menyatakan bahwa membaca tanpa paham artinya sebetulnya sekadar “mengeja”.

Bagi orang yang bahasa ibunya bukan bahasa Arab, tentu tidak mudah memahami Al-Qur’an yang memiliki tingkat sastra sangat tinggi. Jangankan non-Arab, bangsa Arab sendiri yang sehari-hari berbahasa Arab nyatanya banyak yang tidak paham Al-Qur’an. Membaca atau mengeja tanpa memahami makna adalah langkah awal untuk mengenal dan bersahabat dengan Al-Qur’an.

Kedangkalan pemahaman Al-Qur’an ini bukan hanya terjadi pada rakyat biasa, melainkan juga menyasar elite dan para pemimpin beragama Islam. Di negeri kita misalnya, Soekarno, Soeharto, Megawati, Gus Dur, SBY, Jokowi, hingga Prabowo tergolong rendah pemahaman Al-Qur’annya.

Gus Dur yang dianggap kiai pun pemahaman Al-Qur’annya masih terbatas. Pergaulan akrab Gus Dur dengan kalangan non-Islam membuat pemahaman Al-Qur’annya keliru, seperti usahanya membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Pada zaman Gus Dur, hubungan dagang dengan Israel dimulai melalui Menteri Perdagangan Luhut Binsar Pandjaitan saat itu. Selain itu, Gus Dur sering membela pihak non-Islam jika ada konflik antarumat.

Soekarno yang dianggap progresif-revolusioner juga memiliki pemahaman Islam yang dangkal. Mustafa Kemal Atatürk yang menghancurkan Khilafah Islamiah di Turki dianggap Soekarno sebagai pahlawan besar. Soekarno pula yang memimpin sidang 18 Agustus 1945 yang menghapus kata-kata Islam dalam UUD 1945. Ketika menjadi presiden, ia terlalu akrab dengan tokoh-tokoh PKI hingga memusuhi tokoh-tokoh Islam Masyumi dan memenjarakan mereka.

Pemimpin Muslim yang pemahamannya dangkal terhadap Al-Qur’an berujung pada keluarnya kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan ajaran Islam.

Di luar negeri kita melihat Presiden Mesir Abdel Fattah as-Sisi. Pemahamannya yang “cetek” terhadap Al-Qur’an membuatnya melakukan kudeta terhadap Presiden Mohamed Morsi yang terpilih lewat pemilu pada 2013. Kudeta akibat nafsu serakah kuasa tersebut menyebabkan ribuan orang meninggal dunia. Ia juga melarang keras gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, memenjarakan tokoh-tokohnya, serta melarang bukunya beredar.

Padahal Ikhwanul Muslimin adalah gerakan Islam internasional yang terkenal dengan semboyannya: Allah tujuan kami, Rasul teladan kami, Al-Qur’an konstitusi kami, jihad jalan kami, dan mati syahid cita-cita kami yang tertinggi. Ulama-ulamanya banyak yang alim dan keberadaannya mengakar di masyarakat Mesir (lihat buku karya Nuim Hidayat, Sayid Qutb: Biografi dan Kejernihan Pemikirannya, GIP, 2005).

Meskipun buku-buku Ikhwan dilarang di Mesir, karya-karya tersebut telah menyebar luas ke puluhan negara. Di antaranya ke Indonesia, AS, Inggris, Prancis, Australia, Aljazair, Turki, Malaysia, Yordania, dan Arab Saudi.

Begitu pula pemimpin Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), pemahamannya terhadap Al-Qur’an sangat dangkal. Ia mendatangkan kemaksiatan dengan menghadirkan artis-artis Hollywood untuk mengadakan pertunjukan di Arab Saudi. Selain itu, MBS diduga kuat terlibat dalam pembunuhan sadis wartawan Jamal Khashoggi pada 2 Oktober 2018 di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Kantor Direktur Intelijen Nasional AS (Office of the Director of National Intelligence) pada 2021 menyimpulkan bahwa MBS menyetujui operasi untuk menangkap atau membunuh Khashoggi. Penilaian itu didasarkan pada kendali MBS atas aparat keamanan dan keterlibatan orang dekatnya. Hubungan akrab MBS dengan pemimpin AS membuat AS tidak menindaklanjuti kasus ini ke pengadilan internasional.

Pemahaman dangkal terhadap Al-Qur’an juga menyebabkan Presiden UEA Mohamed bin Zayed (MBZ) memelopori penandatanganan Abraham Accords dengan Israel pada 13 Agustus 2020.

1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button