NUIM HIDAYAT

Jadikan Al-Qur’an sebagai Panduan Berpikir

5. Mengambil Hikmah Sejarah dan Memakai Al-Qur’an sebagai Panduan

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yusuf [12]: 111)

6. Menunaikan Haji dan Meningkatkan Ketakwaan

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“(Musim) haji itu (berlangsung pada) beberapa bulan yang telah diketahui. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam melakukan haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 197)

7. Berpegang Teguh pada Tali Allah Swt. dan Menahan Syahwat

قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah, ‘Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.’” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 100)

Sistem politik sekuler sering memilih pemimpin berdasarkan popularitas, bukan ilmunya. Media memoles pejabat bodoh atau zalim agar tampak pintar dan adil.

Al-Qur’an menetapkan kriteria pemimpin ideal yang berilmu tinggi, bertakwa, serta memiliki fisik kuat.

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan Nabi mereka berkata kepada mereka (Bani Israil), ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana mungkin dia memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?’ Nabi mereka berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan memberinya kelebihan ilmu dan kekuatan fisik.’ Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas (ilmu-Nya tidak terbatas), Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 247)

Tujuan kepemimpinan adalah menciptakan perdamaian dan kemakmuran, bukan merusak bumi atau menguntungkan kelompoknya sendiri.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30)

Kedudukan pemimpin yang adil mendapatkan naungan istimewa pada hari akhir. Rasulullah saw. bersabda: “Tujuh golongan yang akan Allah beri naungan pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah; seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya; seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’; seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya; dan seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian lalu kedua matanya berlinang.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Pemimpin adil membagi kekayaan negara secara merata dan memilih hidup zuhud, sebagaimana diteladankan Rasulullah saw., Umar bin Khattab, serta Umar bin Abdul Aziz.

Allah Swt. memerintahkan agar amanat ditunaikan dan hukum ditegakkan secara adil.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 58)

Wallahu ‘alimun hakim. Wallahu ‘azizun hakim.

Laman sebelumnya 1 2 3 4
Back to top button