NUIM HIDAYAT

Jadikan Al-Qur’an sebagai Panduan Berpikir

Harga keimanan ini sangat mahal. Keimanan adalah nyawa kita, sehingga lebih baik mati daripada murtad. Al-Qur’an menyebutkan bahwa harga keimanan itu tidak sebanding dengan emas sepenuh bumi.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, sekalipun dia hendak menebus diri dengannya.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 91)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُم مِّنَ اللَّهِ شَيْئًا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, harta benda dan anak-anak mereka sedikit pun tidak dapat menolak azab Allah. Mereka itulah bahan bakar neraka.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 10)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sekiranya mereka mempunyai segala yang ada di bumi dan ditambah sebanyak itu lagi untuk menebus diri dari azab hari Kiamat, niscaya tidak akan diterima dari mereka dan bagi mereka azab yang keras.” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 36)

Kemajuan ilmu dan teknologi di Barat menyilaukan mata kalangan awam Islam. Mereka mengira kemajuan sains Barat lahir tanpa kontribusi ilmuwan Muslim.

Jika kita menelaah sejarah, peradaban Barat baru menguasai dunia sekitar 500 tahun, sedangkan peradaban Islam pernah memimpin lebih dari 1.000 tahun.

Ilmuwan Muslim yang meletakkan dasar biologi, fisika, matematika, hingga komputasi. Dalam buku 1001 Penemuan & Fakta Mempesona Peradaban Muslim (Gramedia, 2018), dijelaskan bagaimana ilmuwan Muslim memelopori tradisi akademik universitas, penemuan angka nol, aljabar, peta bumi, fotografi, hingga rancangan dasar pesawat terbang.

Inovasi melimpah tersebut lahir berkat dorongan wahyu Al-Qur’an.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ۝

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (alaq). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al-‘Alaq [96]: 1–5)

Al-Qur’an mendorong Muslim menuntut ilmu setinggi-tingginya karena derajat manusia diangkat melalui iman dan ilmu.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 11)

Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan berada pada integrasi iman dan ilmu. Cendekiawan Barat dapat melahirkan karya ilmiah, tetapi perilakunya dihinggapi krisis moral dan ketidakpercayaan kepada Tuhan.

Al-Qur’an merinci ciri-ciri intelektual Islam (ululalbab):

1. Mengingat Allah Swt. dalam Berbagai Keadaan

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 190–191)

2. Menjauhi Thagut dan Memilih Pandangan Terbaik

الَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ ۚ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ ۚ فَبَشِّرْ عِبَادِ ۝ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ ۝

“Dan orang-orang yang menjauhi thagut, tidak menyembahnya, dan kembali kepada Allah. Mereka pantas mendapat kabar gembira. Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, (yaitu) orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat/terpelajar (ululalbab).” (Q.S. Az-Zumar [39]: 17–18)

3. Menepati Janji dengan Allah Swt. dan Tidak Merusak Perjanjian

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ ۝ الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ ۝

“Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah kebenaran sama dengan orang yang buta? Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 19–20)

4. Sabar, Menegakkan Salat, Bersedekah, dan Menolak Kejahatan

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

“Dan orang-orang yang sabar karena mengharapkan keridaan Tuhannya, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan; mereka itulah orang-orang yang mendapat tempat kesudahan yang baik.” (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 22)

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button