OPINI

Tidak, Partai Demokrat Tidak Sedang Mengubah Sikapnya terhadap Israel

Oleh: Ahmad Ibsais (Pengacara Keturunan Palestina-Amerika)

Kemenangan terbaru para kandidat progresif yang vokal mengkritik Israel dalam pemilihan primer Partai Demokrat telah memicu banyak optimisme. Abdul El-Sayed berhasil memenangi pencalonan Demokrat untuk kursi Senat di Michigan setelah AIPAC dan para sekutunya menggelontorkan lebih dari 54 juta dolar AS untuk melawannya dalam pemilihan primer Senat Demokrat termahal dalam sejarah AS.

Di New Jersey, seorang dokter bedah bernama Adam Hamawy, yang sebagai relawan medis menolak meninggalkan Gaza hingga anggota terakhir timnya dievakuasi, memenangi pemilihan primer yang diikuti 12 orang dalam perebutan kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Beberapa tahun lalu, terobosan semacam itu akan tampak mustahil. Bagi banyak pihak di kelompok sayap kiri, kini terlihat seolah-olah kerja keras mereka di tingkat akar rumput mulai membuahkan hasil.

Namun demikian, semua pembicaraan mengenai “pergeseran sikap terhadap Israel” di dalam Partai Demokrat masih terlalu dini. Elite Partai Demokrat tetap berada kokoh di kubu Israel, meskipun mereka menunjukkan nada bicara yang lebih kritis menjelang pemilu sela (midterm elections).

Kita tidak boleh mengira pameran empati musim pemilu sebagai sebuah kebangkitan kesadaran hak asasi manusia atas Palestina.

Kini kita telah mencapai titik di mana pergeseran sikap terhadap Israel tidak lagi dapat diabaikan. Jajak pendapat pada bulan Mei oleh New York Times/Siena menunjukkan bahwa hampir tiga perempat pemilih Demokrat tidak menyetujui bantuan untuk Israel.

Survei lain oleh Quinnipiac University menunjukkan bahwa 66 persen pemilih Demokrat menganggap AS terlalu mendukung Israel. Jajak pendapat yang diterbitkan pada bulan April oleh Pew Research menemukan bahwa 80 persen pemilih Demokrat memandang Israel secara tidak simpatik—naik dari 53 persen pada tahun 2022.

Angka-angka ini menyadarkan kepemimpinan Partai Demokrat bahwa dukungan terbuka bagi para pelaku genosida menjadi terlalu mahal secara politik. Para pemilih Demokrat, yang menyaksikan genosida yang disiarkan secara langsung, jelas tidak lagi melihat Palestina sebagai isu sekunder dalam pilihan politik dan moral mereka.

Kesadaran ini akhirnya muncul setelah para pemimpin Demokrat menghabiskan tahun 2024 untuk menyerang para mahasiswa yang memprotes genosida di kampus-kampus di seluruh negeri. Anggota Kongres dari Partai Demokrat yang terkemuka sebut kemah protes di Columbia University sebagai perkumpulan “aktivis anti-Israel dan anti-Yahudi” serta “sarang” serangan antisemit, lalu menuntut agar pihak universitas membubarkannya.

Banyak di antara mereka yang memuji tindakan keras dan brutal terhadap para mahasiswa pengunjuk rasa tersebut.

Hari ini, beberapa dari pemimpin yang sama justru menunjukkan nada bicara yang berusaha merangkul. Mantan calon presiden Kamala Harris, yang kalah sebagian karena dukungan dan pendanaan pemerintahan Biden untuk genosida di Palestina, kini menyesal tidak menekan presiden agar lebih tegas kepada pemerintah Israel.

Mantan Juru Bicara Departemen Luar Negeri Matthew Miller kini mengakui bahwa Israel “tanpa keraguan” telah melakukan kejahatan perang.

Namun, tidak banyak yang dapat kita lihat di luar retorika dan strategi pemilu.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button