Maulid di Ponpes Nidaul Ihya: Iwan Sumiarsa Ajak Umat Bergembira dengan Kehadiran Nabi
Bogor (Suaraislam.id) – Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Nidaul Ihya, Pabangbon, Kabupaten Bogor, Rabu (24/8/2026), diisi dengan tausiyah yang menekankan pentingnya mencintai Rasulullah melalui penghayatan Al-Qur’an dan pembinaan akhlak.
Pembina LBH Keadilan Rakyat, Iwan Sumiarsa, mengajak jamaah memaknai firman Allah dalam Surah Yunus ayat 58 sebagai landasan kegembiraan sejati seorang mukmin.
“Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)
Menurut Iwan, para ulama tafsir memberikan penjelasan yang saling memperkaya terhadap makna bifadhlillah (karunia Allah) wa birahmatihi (rahmat Allah) dalam ayat tersebut.
Ia menjelaskan, Imam As-Syaukani dalam kitab Fathul Qadir menafsirkan bahwa karunia Allah adalah Al-Qur’an, sedangkan rahmat-Nya adalah Islam. Dengan demikian, kebahagiaan seorang mukmin bersumber dari petunjuk wahyu dan agama yang membimbing kehidupan.
Sementara itu, Imam Ibnu Katsir memaknai bifadhlillah sebagai iman, sedangkan rahmat Allah adalah Al-Qur’an. Iwan menegaskan bahwa tanpa karunia iman, Al-Qur’an tidak akan menjadi petunjuk yang menghidupkan hati manusia.
Ia juga mengutip Tafsir Al-Jailani yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan dijelaskan kembali oleh keturunannya, Prof. Dr. Muhammad Fadhil Al-Jailani. Dalam penafsiran tersebut, karunia Allah dimaknai sebagai pembimbing hidup, sedangkan rahmat-Nya adalah Al-Qur’an.
“Artinya, kita bergembira menyambut hadirnya pembimbing umat, yaitu Rasulullah SAW, yang membawa Al-Qur’an sebagai petunjuk arah kehidupan. Dengan bimbingan Rasul dan tuntunan Al-Qur’an, manusia dapat tercerahkan dan tidak tertipu oleh hawa nafsu serta kecintaan berlebihan kepada dunia,” ujar Iwan.
Dalam tausiyahnya, Iwan mengingatkan bahwa budaya menumpuk kekayaan pernah menjadi ciri kaum Quraisy yang lebih mengagungkan emas dan perak daripada petunjuk Allah. Padahal, menurutnya, Islam mengajarkan bahwa nilai tertinggi manusia bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada kemuliaan akhlaknya.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW: “Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq” — Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.
Karena itu, ia mengajak umat menjadikan Maulid Nabi bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan momentum memperbanyak mengaji, menuntut ilmu, dan membentuk karakter sebagai muslim yang berkualitas.
“Tujuan manusia diutus di muka bumi adalah menjadi khalifatul ardh, memimpin dan mengelola kehidupan dengan baik. Jika umat kembali kepada Rasulullah dan Al-Qur’an, insyaallah rahmat dan ridha Allah akan turun kepada bangsa ini,” tuturnya.
Di akhir penyampaiannya, Iwan mengajak seluruh jamaah untuk terus menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari sesuai kemampuan masing-masing. []






