Penasihat Politik Iran: Selat Hormuz Tak Dibuka Selama Trump dan Netanyahu Berkuasa
TEHERAN (Suaraislam.id)— Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih memegang kekuasaan, demikian ditegaskan penasihat politik Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, pada Kamis (17/9/2026).
“Para pejuang kami tidak akan membuka Selat Hormuz sampai Trump yang kriminal dan Netanyahu yang haus darah diturunkan dari kursi kekuasaan mereka, dan ini merupakan tahap pertama pembalasan bangsa Iran,” kata Zolqadr seperti dikutip kantor berita ISNA.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan ke wilayah AS dan Israel.
Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington sempat menandatangani nota kesepahaman penghentian permusuhan, tetapi konflik kembali memanas tak lama setelahnya.
Saat ini konflik belum terselesaikan secara menyeluruh. Kendati kedua pihak tidak terlibat dalam pertempuran aktif secara langsung, AS mengandalkan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Eskalasi konflik tersebut mengakibatkan terhentinya pelayaran melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur pasokan penting bagi minyak global, produk minyak bumi, dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG).
Kondisi penutupan jalur laut ini berdampak pada melonjaknya harga bahan bakar di sebagian besar negara.[]
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA






