Pengadilan Inggris Bebaskan Aktivis Perempuan dari Tuduhan Dukungan terhadap Hamas
LONDON (Suaraislam.id)— Pengadilan di London membebaskan seorang perempuan warga negara Inggris, Sarah Cotte (22), dari tuduhan memberikan dukungan terhadap kelompok Hamas dalam pidato akademisnya pada tahun 2023.
Juri di Pengadilan Kriminal Pusat (Old Bailey) pada Jumat (18/09) menyatakan Cotte tidak bersalah atas dakwaan menyatakan dukungan terhadap organisasi yang dikategorikan sebagai organisasi terlarang di bawah hukum Inggris.
Jaksa penuntut sebelumnya menuduh Cotte menyuarakan dukungan untuk Hamas dalam pidato di luar School of Oriental and African Studies (SOAS) London, dua hari setelah peristiwa 7 Oktober 2023. Jaksa mengklaim pernyataan “solidaritas tanpa syarat” yang disampaikan Cotte merujuk kepada kelompok tersebut.
Cotte berulang kali menolak upaya untuk menyamakan kedua hal tersebut di hadapan pengadilan.
“Saya tidak mendukung Hamas dan tidak pernah mendukung Hamas. Saya mendukung hak untuk melawan,” ujar Cotte.
Saat berbicara kepada Al Jazeera setelah putusan pada Jumat, Cotte menyatakan bahwa keputusan pengadilan mencerminkan pandangan publik terhadap dukungan pemerintah Inggris terhadap Zionisme.
“Saya tidak pernah mengecam hak atas perjuangan bersenjata di Palestina,” kata Cotte. “Saya tidak membiarkan mereka menyudutkan saya dan menjadikan ini pembicaraan tentang apa yang ingin dibicarakan oleh Zionis.”
Sebaliknya, ia memanfaatkan proses persidangan tersebut untuk menyuarakan isu utama.
“Saya menggunakannya sebagai platform untuk membicarakan apa yang saya anggap penting, yaitu perjuangan Palestina, dukungan Inggris terhadap Zionisme, dan hak-hak kita sebagai orang yang memiliki hati nurani,” kata Cotte.
Pemerintah Inggris melarang Hamas secara keseluruhan pada akhir tahun 2021, setelah sebelumnya melarang sayap militernya, Brigade Qassam, sejak tahun 2001. Berdasarkan hukum Inggris, mereka yang dinyatakan bersalah mendukung kelompok tersebut dapat menghadapi hukuman hingga 14 tahun penjara.
Pada hari terakhir persidangan yang berlangsung selama sepekan pada Jumat, Cotte kembali menegaskan bahwa ia tidak menyuarakan dukungan untuk Hamas saat berpidato di SOAS ketika masih menjadi mahasiswa. Ia berargumen hanya menyuarakan dukungan untuk hak rakyat Palestina untuk melawan.
“Saya pikir pembunuhan warga sipil selalu merupakan tragedi. Pada saat yang sama, saya pikir itu bukan hal yang mengejutkan,” kata Cotte kepada juri.
“Saya pikir mengatakan bahwa hal itu dapat dipahami dan menyetujuinya adalah dua hal yang berbeda, jadi saya pikir itu dapat dipahami dan dapat dibenarkan,” jelaskannya.






