Kiai Abbas Aula, Kader Didikan Mohammad Natsir yang Menjaga Dakwah di Bogor
Bogor (Suaraislam.id) — Di tengah pembahasan program kerja Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kota Bogor periode 2026–2031, suasana Rapat Kerja di Gedung Sri Baduga, Balai Kota Bogor, Ahad (20/9/2026), sejenak berubah menjadi ruang penuh keteladanan dari Ketua Majelis Syuro DDII Kota Bogor, KH Muhammad Abbas Aula.
Dalam tausiyahnya, ia tidak berbicara tentang anggaran atau target organisasi, melainkan tentang perjalanan hidup yang dimulai dari sebuah desa di Flores hingga menjadi kader langsung pendiri DDII yaitu Buya Mohammad Natsir.
Bagi para peserta raker, Kiai Abbas bukan sekadar pimpinan Majelis Syuro. Ia adalah saksi hidup bagaimana visi dakwah Mohammad Natsir melahirkan generasi dai yang kemudian menyebarkan Islam ke berbagai penjuru Indonesia.
“DDII Kota Bogor berdiri sejak 2003. Alhamdulillah sudah lebih dari dua dekade tetap eksis dan terus mengawal berbagai persoalan umat,” ujarnya mengawali nasihat.
Selama berdiri, DDII Kota Bogor dikenal aktif mengawal sejumlah isu keumatan, mulai dari polemik Syiah, kasus GKI Yasmin, kasus Mahesa Kurung, hingga berbagai persoalan sosial-keagamaan lainnya di Kota Bogor.
Kiai Abbas mengenang awal perjalanannya pada dekade 1970-an. Saat itu ia datang dari Flores, Nusa Tenggara Timur, dengan bekal yang sangat sederhana. Takdir mempertemukannya dengan Buya Mohammad Natsir di Masjid Al-Munawwarah, Jakarta, masjid yang kelak menjadi tempat lahirnya DDII.
“Saya tahun 70-an datang dari desa di NTT, lalu bertemu Pak Natsir di Masjid Al-Munawwarah. Beliau kemudian mengirim saya ke Bogor untuk pendidikan dan dakwah,” kenangnya.
Setelah menjalani pembinaan, Pak Natsir kembali mengirimnya menuntut ilmu ke Madinah. Sepulang dari Arab Saudi, Abbas tidak memilih kenyamanan profesi lain. Ia kembali ke Indonesia untuk menjalani amanah sebagai dai dan menjadi salah satu pelopor gerakan dakwah kampus pada era 1980-an.
Sejak saat itu ia menetap di Bogor dan mengasuh Ma’had Al-Qur’an wal Hadits (MAQDIS) di Darmaga, sembari memimpin Majelis Syuro DDII Kota Bogor sekaligus menjadi pengurus DDII Pusat di Jakarta.
Di hadapan sekitar 50 pengurus DDII, Kiai Abbas mengingatkan bahwa aktivitas dakwah adalah pekerjaan paling mulia, tetapi sekaligus memiliki banyak tantangan. Karena itu, menurutnya, kekuatan utama seorang dai bukan pertama-tama kemampuan berbicara, melainkan keikhlasan niat.
“Dakwah adalah aktivitas yang paling mulia. Karena itu kita harus ikhlas dalam niat, sebab itulah yang paling menentukan,” tuturnya.
Ia kemudian mengutip hadis Rasulullah saw tentang orientasi hidup seorang Muslim:“Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, memudahkan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Sebaliknya, siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kecuali sebatas yang telah ditakdirkan baginya.”
Menurut Kiai Abbas, hadis tersebut bukan sekadar motivasi spiritual, tetapi fondasi bagi seluruh gerakan dakwah. Seorang dai, katanya, tidak boleh menjadikan popularitas, jabatan, ataupun keuntungan dunia sebagai tujuan utama.






