Hati-Hati, Tiga Pola Parenting Ini Bisa Rusak Kepercayaan Diri Anak
Jakarta (Suaraislam.id) — Kebanyakan orang tua berusaha memberikan nasihat dan dorongan kepada anak-anak mereka agar mampu serta siap menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan.
Namun, adakalanya orang tua menyampaikan nasihat dan dorongan dengan cara yang justru merusak kepercayaan diri anak dan menimbulkan dampak negatif jangka panjang.
Dalam artikel yang dipublikasikan di laman Psychology Today pada Kamis (1/10/2026), psikolog anak, remaja, dan keluarga Jeffrey Bernstein, Ph.D. menyampaikan tiga pola pengasuhan orang tua yang dapat mengikis kepercayaan diri anak.
Terlalu Cepat Mengambil Alih Masalah Anak
Pertama, orang tua sering kali terburu-buru membantu menyelesaikan masalah anak sebelum sang anak menyadari kemampuan mereka sendiri.
Bernstein mengatakan bahwa intervensi orang tua memang adakalanya diperlukan. Namun, ketika tindakan “menyelamatkan” menjadi kebiasaan utama, anak-anak akan kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi serta mengatasi masalah.
Kesempatan untuk belajar menghadapi kesulitan sendiri dapat menumbuhkan kepercayaan diri anak dan mendorong mereka untuk berusaha lebih baik.
Bernstein juga menyampaikan bahwa tindakan penyelamatan yang berulang kali dilakukan dapat membuat rasa percaya orang tua terhadap kemampuan anak tertutupi oleh rasa khawatir.
Oleh karena itu, ia menyarankan orang tua memberikan dukungan kepada anak tanpa langsung mengambil alih penanganan masalah.
Menurut dia, orang tua dapat membimbing anak untuk mengambil langkah pertama dan mempertimbangkan pilihan yang ada, serta membiarkan anak belajar melalui proses trial and error.
Meremehkan Perasaan Anak
Bernstein mengatakan bahwa kebiasaan kedua yang dapat menurunkan kepercayaan diri anak adalah menyampaikan ucapan yang terdengar seperti menganggap enteng perasaan mereka.
Menurut dia, ucapan seperti “kamu terlalu sensitif” atau “tidak ada yang perlu dikhawatirkan” yang mungkin dimaksudkan untuk menenangkan justru dapat membuat anak menganggap perasaan mereka tidak dapat dipercaya.
Alih-alih menyampaikan ucapan semacam itu, orang tua dapat berempati terhadap kecemasan anak tanpa harus menganggap setiap situasi baru sebagai sesuatu yang berbahaya.
Orang tua dapat menyediakan ruang bagi anak untuk sejenak berhenti dan berusaha menentukan langkah selanjutnya.
Misalnya, orang tua dapat menyatakan pemahaman atas kekecewaan anak, lalu mengajak mereka memahami hal yang sebenarnya terjadi dan mengambil pelajaran darinya.






