Bekali Jiwa Pemimpin dan Dakwah Pelajar, Yayasan Husnul Khotimah Gelar ISL 2026
Kuningan (Suaraislam.id) — Sebanyak 105 peserta dari 25 SMA/SMK di Kabupaten Kuningan mengikuti Islamic Student Leadership (ISL) 2026 pada Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Divisi Humas dan Dakwah Yayasan Husnul Khotimah Kuningan. Program pengembangan kepemimpinan tersebut ditujukan bagi pengurus Ikatan Remaja Masjid (Irmas) dan Rohani Islam (Rohis).
Pelatihan ini berlangsung di Tahu Susu Tamiang, Jalan Baru Lingkar Timur, Kuningan. Mengusung tema “Lead with Faith, Serve with Impact” atau Bertakwa, Memimpin, Menginspirasi, acara ini menjadi ruang pengembangan kapasitas pelajar. Mereka dilatih untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan, mengasah komunikasi, serta mempererat ukhuwah.
Selain itu, peserta diajak merancang gerakan dakwah kreatif yang berdampak nyata di lingkungan sekolah. Materi pertama disampaikan oleh K.H. Imam Nur Suharno, M.Pd.I., dengan tema kepemimpinan melalui konsep hafidzun dan alimun. Ia mengajak peserta memahami bahwa pemimpin harus mampu menjaga amanah sekaligus membekali diri dengan ilmu.
“Pemimpin masa depan bukan sekadar orang yang berani tampil di depan, tetapi mereka yang mampu menjaga amanah, membekali diri dengan ilmu, dan memahami kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya. Melalui konsep Hafidzun dan Alimun, kita ingin melahirkan pemimpin yang dekat dengan Allah, memiliki kecerdasan emosional dan spiritual, serta mampu memberikan manfaat bagi umat. Karena itu, jangan takut bermimpi besar, beranilah mengambil peran, dan persiapkan diri untuk menjadi pemimpin yang membawa perubahan,” pesan K.H. Imam.
Penyampaian materi tersebut berlangsung secara interaktif dan antusias. Peserta diajak maju ke depan dan mengucapkan kata hafidzun dan alimun dengan lantang. Hal ini bertujuan sebagai peneguhan semangat untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan umat.
Semangat peserta makin meningkat saat memasuki sesi public speaking yang disampaikan oleh Ustaz Iyan Mulyana, M.Pd. Ia menekankan bahwa kemampuan berbicara di depan umum bukan sekadar keterampilan tampil. Keterampilan tersebut merupakan bekal penting untuk memimpin organisasi dan menggerakkan perubahan positif.
“Seorang public speaker tidak hanya harus mampu berbicara, tetapi juga mampu mendengarkan,” tegas Ustaz Iyan.
Ia menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif membutuhkan kemampuan menyampaikan pesan sekaligus memahami orang lain. Ustaz Iyan juga mengingatkan bahwa public speaking bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih secara konsisten.
Sejumlah peserta kemudian maju ke depan untuk mempraktikkan intonasi dan pengaturan nada suara. Mereka berlatih menyampaikan pesan dengan penekanan yang tepat di hadapan audiens. Latihan ini dirancang untuk mendorong peserta mengatasi rasa gugup dan meningkatkan kepercayaan diri.
Setelah mendapatkan bekal komunikasi, peserta diajak menerjemahkan ilmu menjadi aksi nyata. Materi action plan bertajuk “Dari Gagasan Menjadi Gerakan” ini disampaikan oleh Ustaz Firdaus, S.Pd.I. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menyusun rencana aksi melalui konsep “1 Sekolah – 1 Gerakan”.
Berbagai gagasan dakwah sekolah pun berhasil dikembangkan, seperti One Day Half a Juz, Jumat Berkah, Sedekah Pelajar, dan kajian pekanan. Ada pula kampanye antiperundungan (anti-bullying), peningkatan literasi Al-Qur’an, hingga gerakan peduli lingkungan. Ustaz Firdaus menekankan pentingnya membangun gerakan yang berkelanjutan di sekolah.
“Jangan hanya membuat program yang terlaksana. Bangun gerakan yang menghidupkan kesadaran, menggerakkan banyak orang, dan menciptakan perubahan,” ujar Ustaz Firdaus.
Rangkaian kegiatan makin semarak dengan adanya sesi outbound yang dipandu oleh Coach Ari M. Ridwan. Aktivitas ini menjadi ruang bagi peserta untuk memperkuat kekompakan dan melatih kerja sama tim. Pengalaman tersebut melengkapi pembelajaran langsung tentang pentingnya kepercayaan dan kolaborasi.






