OPINI

Abdul El-Sayed Tidak Harus Mengikis Identitas Keislamannya untuk Menang

Oleh: Bilal Irfan*

Pesan singkat bermunculan di akun WhatsApp saya dari New York, Gaza, Pakistan, dan Australia. Teman-temannya dan rekan sejawat sedang mengikuti kontestasi Senat di Michigan, mendiskusikan Abdul El-Sayed dengan penuh antusias. Ketika hasil dari Wilayah Wayne memastikan kemenangannya pada Selasa lalu, saya merasakan sesuatu yang jarang saya rasakan dalam politik Amerika Serikat: bukan sekadar lega karena seseorang telah kalah, melainkan kegembiraan dan harapan sejati bahwa seseorang telah menang.

El-Sayed, seorang dokter dan mantan direktur kesehatan Detroit, mengalahkan kandidat Partai Republik, Mike Rogers. Ia akan menjadi Muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Senat Serikat. Sebagai seorang Muslim Amerika dari Michigan, peristiwa ini terasa sangat berkesan.

Seperti kebanyakan anggota komunitas Muslim di Michigan, saya sudah mengenal Abdul jauh sebelum namanya menjadi perbincangan di media nasional, mulai dari kampanye calon gubernur pada 2018 hingga khotbah Jumat yang disampaikannya di masjid-masjid lokal. Ketika Ramadan dimulai tahun ini, saya menghadiri salah satu acara balai kota untuk konstituen Muslim. Di hadapan puluhan warga dan tokoh masyarakat, Abdul berjanji akan memperjuangkan seluruh warga Michigan. Keterbukaan dan komitmennya terhadap janji tersebut tetap terlihat jelas meskipun tekanan kampanye semakin meningkat. Saya pernah melihatnya menghadiri pemakaman warga di dekat rumah saya dan menyapa orang-orang dengan kehangatan. Bahkan pada hari-hari terakhir kampanye yang melelahkan, ia merespons secara pribadi pesan-pesan dari masyarakat, termasuk pesan saya.

Kami menempuh pendidikan di universitas yang sama, University of Michigan, tempat ia pernah membantu memimpin Perhimpunan Mahasiswa Muslim (Muslim Students’ Association). Saya kemudian menjabat sebagai ketua BEM di sana. Beberapa hari sebelum pemilihan, para alumni Muslim (termasuk saya) mengundangnya ke acara santai menonton pertandingan bola bersama mahasiswa, orang tua, dan alumni. Mantan guru dan mahasiswanya berbicara kepada saya dengan penuh rasa bangga atas sosok yang mereka kenal.

Umat Islam Amerika sering kali diminta merayakan politisi mana pun yang sesekali mengucapkan “assalamu ‘alaikum” atau hadir di masjid menjelang Hari Pemilihan. Abdul bukanlah orang luar yang datang mendekati komunitas kami. Ia adalah bagian dari komunitas ini.

Selama kampanye, saya menyambut ratusan warga Muslim lokal, kandidat politik dari luar negara bagian yang berkampanye untuknya, serta anggota stafnya ke rumah saya. Orang-orang mendengar langsung dari kerabat terdekatnya tentang arti pemilihan ini bagi Muslim Amerika. Antusiasme yang ada terasa berbeda dari kebiasaan kompromi politik yang mengecilkan hati, yakni memilih hanya untuk mencegah kandidat yang lebih buruk menang.

Dua tahun lalu, saya menulis artikel tentang alasan memilih menentang genosida pada Pemilu Presiden 2024. Keputusan itu dibentuk oleh pekerjaan saya bersama para tenaga kesehatan Palestina, kesaksian langsung atas realitas di Palestina, serta kemarahan atas keterlibatan pemerintahan Biden-Harris dalam genosida di Gaza. Baik saya maupun banyak warga Muslim Michigan tidak melupakannya. Namun kali ini, kertas suara menawarkan sesuatu yang bukan sekadar suara protes: seorang kandidat yang sejak awal menentang genosida Israel terhadap warga Palestina sekaligus peduli pada berbagai isu yang memengaruhi warga Michigan.

Keberaniannya menyuarakan kebenaran kepada pihak berkuasa memicu permusuhan sengit dari elite Washington. Presiden Donald Trump berulang kali mengejek nama Abdul dengan menjadikan “Muhammad” — nama tengahnya yang berarti “yang terpuji” — sebagai ejekan. Lawan politik dan bahkan beberapa pemilih mengisyaratkan bahwa agamanya saja sudah membuatnya patut dicurigai, sembari memunculkan kembali tuduhan tak berdasar yang menghubungkannya dengan kelompok serta gerakan yang tidak ia ikuti.

Abdul meresponsnya dengan bermartabat dan lugas. Ketika para pengkritik mempermasalahkan namanya, ia berbicara tentang kebutuhan pokok, perumahan, layanan kesehatan, dan keterjangkauan harga. Ketika ditantang mengenai penolakannya terhadap genosida, ia mempertanyakan anggapan bahwa keinginan agar anak-anak hidup bebas dari bom adalah suatu bentuk kebencian. Ia menolak anggapan bahwa seorang Muslim harus melepaskan komunitasnya atau Palestina agar memenuhi syarat menduduki jabatan publik.

Hal terpenting adalah ia memberikan perlawanan. Banyak pemilih Muslim yang saya ajak bicara merasa telah menemukan seseorang yang bersedia memperjuangkan mereka, menantang prasangka dan rasisme para jurnalis, pengamat, serta media massa, ketimbang menerima narasi yang tidak adil tersebut.

Pidato kemenangannya dimulai dengan kata-kata yang sempat dijadikan senjata oleh para lawannya: “Nama saya Abdulrahman Mohamed El-Sayed.” Ia mengenang selalu mengucapkan “insya Allah” setiap kali ditanya tentang peluang menang. Kini, ia menyatakan bahwa saatnya mengumandangkan “alhamdulillah“.

Momen tersebut terasa membakar semangat, bukan sekadar karena frasa bahasa Arab menjadi tanda solidaritas — bahkan mantan Presiden Joe Biden pernah mengucapkan “insya Allah” dalam sebuah debat sebelum kemudian memfasilitasi genosida terhadap warga Palestina serta mendukung pemboman masjid dan pembakaran Al-Qur’an — melainkan karena identitas keislamannya berhasil bertahan dari upaya kelompok kepentingan dan rasis di seluruh negeri yang ingin menggugurkan kepantasannya. Agamanya, Islam, adalah sistem nilai yang aktif ia pilih setiap hari, sebuah komitmen yang ia perjuangkan dalam kehidupan publik. Keislamannya lebih berarti bagi saya daripada etnis Arab atau asal-usul leluhurnya yang sekadar takdir kelahiran.

Ada kekuatan modal besar di balik upaya untuk menghentikannya. Super PAC yang terafiliasi dengan American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) menghabiskan sekitar 30 juta dolar AS dalam pemilihan primer Partai Demokrat di Michigan. Angka ini merupakan investasi luar biasa untuk mengalahkan seseorang yang secara terbuka menentang dukungan AS terhadap genosida dan apartheid Israel. Dalam pidato kemenangannya, Abdul menyampaikan terima kasih kepada AIPAC atas kesempatan untuk mengalahkannya dua kali. Satu kekalahan memang tidak akan menghapuskan kekuatan kelompok lobi tersebut. Namun, Michigan membuktikan bahwa dana AIPAC tidak harus menjadi veto atas siapa yang bisa menang.

1 2Laman berikutnya
Back to top button