NUIM HIDAYAT

In Memoriam Ustadz Abdul Qadir Djaelani

Panggilannya Mang Djel atau Bang Djel. Saya memanggilnya Bang Djel. Saya tidak terlalu akrab dengan tokoh PII/GPI ini (Pelajar Islam Indonesia/Gerakan Pemuda Islam). Tapi saya pernah berjumpa dengannya dan membaca beberapa bukunya. Ia wafat menuju Rabb-nya Selasa kemarin, 23 Februari 2021. Ia lahir di Jakarta, 20 Oktober 1938.

Sewaktu saya menjadi mahasiswa IPB, tahun 90an saya dengan seorang teman, pernah mengunjungi rumahnya di Leuwiliang Bogor. Dalam pertemuan itu, saya bertanya tentang maraknya gerakan Islam dari Timur Tengah di Indonesia saat itu.”Itu hanya sementara,”jawabnya. Saya tertegun jawabannya. Kini saya rasakan benar juga jawabannya. Pengaruh gerakan dari Timur Tengah itu mulai berkurang saat ini. Banyak anak muda sekarang yang mulai giat mempelajari tokoh-tokoh Islam dan sejarah perjuangan Islam di tanah air.

Selain itu, saya kagum dengan almarhum karena bisa memadukan antara kemampuan orasi dan tulisan. Meski kemampuan orasinya tidak sebaik Soekarno, tapi bisa dibilang lumayan bagus. Tidak banyak dai yang bisa ceramah bagus dan menulis bagus. Hal ini mengingatkan saya pada pesan tokoh besar Tjokroaminoto,”Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar maka menulislah seperti wartawan dan berbicaralah seperti orator.”

Ketiga, saya kagum dengan mentalnya. Ia, seperti tokoh-tokoh Masyumi terdahulu, berani mengambil risiko dalam perjuangan. Berkali-kali dipenjara tidak menyurutkan nyalinya dalam perjuangan Islam. Di zaman Soekarno dua kali masuk penjara, di zaman Soeharto dua kali juga.

Keempat, ia teguh pendirian. Bang Djel, adalah salah satu tokoh pendiri Partai Bulan Bintang. Ketika Yusril Ihza Mahendra –Ketua Umum PBB- dilihat para tokoh partai mulai menyimpang (1999), Bang Djel bergabung dengan kawan-kawannya memisahkan diri dari PBB. Ia menyatukan diri dengan Hartono Mardjono, KH Kholil Ridwan, Cholil Badawi, Fadli Zon, Farid Prawiranegara, Aru Syeif Assad dan lain-lain.

Kelima, buku-buku yang ia tulis selalu aktual dan menanggapi masalah yang berkembang. Ketika cendekiawan Nurcholish Madjid dilihatnya menyimpang dari pemikiran Islam, ia menulis buku “Menelusuri Kekeliruan Pembaharuan Pemikiran Islam Nurcholish Madjid” (1994). Ketika Pelajar Islam Indonesia diterawangnya berbelok, ia menulis buku “Pelajar Islam Indonesia (PII) dari Organisasi Fundamentalis Menjadi Organisasi Sekuler.” Ketika banyak kaum muda Islam tidak mengerti sejarah perjuangan politik di Indonesia, ia menorehkan dua karya “Peta Sejarah Perjuangan Politik Umat Islam” dan “Sejarah Perjuangan Politik Umat Islam Indonesia” (1050 halaman).

Baca juga: Obituarium: Mang Djel, Tokoh Pejuang Syariat Tiga Zaman

Masih banyak sebenarnya hikmah-hikmah yang bisa kita ambil dari tokoh Masyumi ini. Berikut ini saya lampirkan tulisan menarik dari dua penulis berbakat, Ismail Alam dan Hanibal WY Wijayanta tentang Bang Djel.

1 2 3 4 5Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button