NASIONAL

Akhirnya Peringatan Tokoh-Tokoh tentang Ketidakberesan Listyo Sigit Terbukti

Keempat, Gatot menilai Listyo tidak beretika dan cenderung kurang ajar. Ia mengingatkan bahwa kepolisian merupakan institusi negara yang seharusnya menjaga disiplin dan menghormati hierarki pemerintahan.

“Sebagai seorang Kapolri, pernyataan ini, pembangkangan ini merusak institusi Polri yang sama-sama kita cintai oleh satu orang yang namanya Listyo Sigit,” ujar Gatot.

Ia melontarkan kecaman, “Saya katakan di sini bahwa Saudara Jenderal Polisi Listyo Sigit tidak beretika, bahkan cenderung kurang ajar. Tidak pada tempatnya seorang Kapolri bicara seperti itu.”

Kelima, Gatot mengingatkan Listyo bahwa Prabowo bukan boneka. Bagian paling keras dari pidato tersebut adalah saat Gatot membela kewenangan Presiden Prabowo.

Gatot mempertanyakan apakah Listyo menganggap Prabowo tidak memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri.

“Dia kira, Sigit kira Pak Prabowo itu boneka yang bisa ditimbang-timbang, tidak punya mata, hanya gambar mata, tidak punya telinga, tidak punya mulut, semaunya dia berbuat. Kurang ajar ini namanya,” cetus Gatot.

Gatot mengingatkan latar belakang militer Prabowo yang pernah menjabat Komandan Jenderal Kopassus dan Panglima Kostrad. “Saya ingatkan Jenderal Polisi Listyo Sigit, Presiden kita, Jenderal TNI Purnawirawan Prabowo Subianto adalah mantan Danjen Kopassus, pasukan khusus, mantan Pangkostrad,” tegasnya.

“Jangan dianggap boneka, itu kurang ajar. Saya begini karena sebagai warga negara, saya punya hak bicara untuk melindungi presiden saya,” lanjut Gatot.

Din Syamsuddin: Jangan Biarkan Polri Menjadi Superbody

Peringatan lain datang dari Prof. Din Syamsuddin. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan mantan Ketua Umum MUI ini pernah mengkritik keras keberadaan Satgassus Merah Putih di tubuh Polri.

Pada 11 Agustus 2022, Din meminta agar Satgassus yang pernah dipimpin Irjen Ferdy Sambo segera dibubarkan. Ia menilai keberadaan satuan khusus tersebut berbahaya karena berpotensi menjadi kekuatan superbody di internal kepolisian.

“Keberadaan Satgassus di tubuh Polri yang disinyalir menjadi superbody dan rentan terhadap mafia adalah berbahaya karena dapat menghalangi penegakan keadilan dan membuka jalan bagi kezaliman,” kata Din.

Ia menyinggung dugaan keterkaitan Satgassus dengan berbagai masalah, seperti pembunuhan anggota Laskar FPI, praktik judi online, dan pembunuhan Brigadir J. Catatan Din, dugaan tersebut harus dibuktikan karena jika terbukti, hal itu akan menjadi malapetaka nasional.

Pada 14 Oktober 2020, Din Syamsuddin bersama Gatot Nurmantyo dan Rochmat Wahab menandatangani pernyataan Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Mereka menduga saluran telepon sejumlah tokoh KAMI diretas dan disadap saat Listyo Sigit menjabat sebagai Kabareskrim Polri.

“KAMI menegaskan bahwa ada indikasi kuat handphone beberapa tokoh KAMI dalam hari-hari terakhir ini diretas atau dikendalikan oleh pihak tertentu sehingga besar kemungkinan disadap atau digandakan (dikloning),” demikian bunyi pernyataan tertulis tersebut.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button