Asmara Memuncak di Antara Bait Alfiyyah
“Tenangkan hatimu, Luqman,” bisik tekadnya pada diri sendiri sambil memegang kitab Fathul Mu’in.
“Jika dia jodohmu, Allah Swt. akan membuat skenario yang lebih baik daripada pertemuan Nabi Yusuf dan Zulaikha. Jika bukan, minimal kamu sudah khatam kitab tanpa gangguan perasaan.”
Suatu hari, temannya yang bernama Sholeh bertanya kepada Luqman. Sholeh sendiri dikenal sebagai santri yang hobi melanggar aturan tetapi takut kualat.
“Luqman, kamu itu normal atau tidak, sih? Lihat Fatimah lewat kok malah membaca doa makan?” tanya Sholeh heran.
Luqman menjawab dengan tenang, “Bukan doa makan, Leh. Itu doa agar aku tidak ‘melahap’ godaan setan.”
“Lagipula, dalam kaidah fikih disebutkan: Al-dhararu yuzalu (bahaya itu harus dihilangkan). Nah, jatuh cinta sebelum waktunya itu berbahaya bagi hafalan Alfiyyah-ku karena bisa membuat mubtada’-ku lari dan khabar-nya hilang entah ke mana.”
Sholeh tertawa mendengar penjelasan tersebut. “Tetapi kan bisa lewat surat, Man, pakai bahasa sastra Arab sedikit.”
Luqman menggeleng tegas. “Menulis surat cinta itu makruh bagi santri yang belum khatam Alfiyyah, bahkan bisa jadi haram jika kertasnya hasil meminta punya teman.”
“Aku memilih jalur langit saja. Jalur ini lebih privat dan tanpa perantara operator seluler.”
Luqman juga sering merenungi isi kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Dalam kitab tersebut, dijelaskan sebuah hakikat hati:
فَكُلُّ قَلْبٍ مَالَ إِلَى حُبِّ شَيْءٍ سِوَى اللَّهِ تَعَالَى فَلَا يَنْفَكُّ عَنْ مَرَضٍ بِقَدْرِ مَيْلِهِ إِلَّا إِذَا كَانَ أَحَبَّ ذَلِكَ الشَّيْءَ لِكَوْنِهِ مُعِينًا لَهُ عَلَى حُبِّ اللَّهِ تَعَالَى وَعَلَى دِينِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ لَا يَدُلُّ ذَلِكَ عَلَى الْمَرَضِ
“Setiap hati yang condong untuk mencintai sesuatu selain Allah Ta’ala, maka ia tidak terlepas dari penyakit sesuai dengan kadar kecondongannya, kecuali jika ia mencintai sesuatu itu sebagai penolong baginya untuk mencintai Allah Ta’ala dan agama-Nya. Pada saat itulah hal tersebut tidak menunjukkan adanya penyakit.”
Luqman tidak ingin cintanya kepada Fatimah berubah menjadi penyakit hati. Ia tidak ingin saat bersujud, hal yang terbayang bukan kebesaran Allah Swt, melainkan warna kerudung Fatimah yang tadi pagi tidak sengaja dilihatnya di jemuran.






