SANTRI PELAJAR

Asmara Memuncak di Antara Bait Alfiyyah

Meskipun ia memilih diam, kadang jiwa puitis santrinya memberontak. Di pojok kitabnya, ia menulis catatan kecil yang hanya bisa dimengerti oleh sesama kaum sarungan.

“Hubungan kita itu ibarat idhafah. Kamu mudhaf ilaih-nya dan aku mudhaf-nya.”

“Aku tidak bisa berdiri sendiri tanpamu, tetapi untuk sementara aku harus menyendiri demi ilmu agar kita bisa menjadi satu kalimat yang mufid di masa depan.”

Namun, segera setelah menulis kalimat itu, ia pasti beristighfar dan menghapusnya. Ia takut jika santri senior melihat, ia akan disuruh menjelaskan i’rab dari tulisan perasaannya itu di depan kelas.

Luqman akhirnya memutuskan untuk terus menutup rapat perasaannya. Ia percaya bahwa pilihannya saat ini merupakan keputusan yang paling tepat.

Ia menghabiskan malam-malamnya bukan dengan mengirim pesan rindu. Ia memilih mengisinya dengan muthala’ah kitab dan qiyamullail.

Ia teringat sebuah makolah dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah:

مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إلَّا عَلَى بِذْرِ طَمَعٍ.

“Tidak tumbuh dahan-dahan kehinaan, kecuali dari benih ketamakan.”

Luqman tidak ingin menghinakan dirinya dengan mengemis perhatian yang belum halal. Ia memilih menjadi mubtada’ yang sabar menunggu khabar-nya datang dari wali santri melalui restu kiai.

Kisah Luqman adalah representasi dari ribuan santri di luar sana. Mereka berjuang melawan gejolak hormon dengan senjata tashrifan.

Mereka adalah orang-orang yang percaya bahwa cinta yang dijaga dalam koridor syariat akan berbuah manis di waktu yang tepat. Bagi seorang santri, lebih baik menahan rindu di dunia pesantren daripada menahan malu di hadapan Allah Swt. dan Rasulullah saw. karena melanggar batasan-Nya.

Luqman kembali membuka kitabnya lalu bergumam pelan, “Bismillah, qala muhammadun huwabnu maliki… Fatimah, tunggu aku di pelaminan setelah aku khatam minimal tujuh kitab besar!”[]

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button