NUIM HIDAYAT

Bacalah Al-Qur’an, Seakan-akan Ia Turun Kepadamu

Bahkan, penulis kitab tafsir monumental ini meminta para pembaca Fi Zhilalil Qur’an untuk berinteraksi langsung dengan Al-Qur’an ketimbang hanya mencukupkan diri pada tafsirnya. Al-Qur’an merupakan kitab suci pembawa inspirasi terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia.

Tidak ada satu pun buku di dunia ini yang dapat menandingi kemuliaan serta keagungan kedudukan Al-Qur’an. Setiap hari, ayat-ayatnya dibaca, dihafalkan, dipahami, dan diamalkan oleh jutaan kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia.

Gema lantunan Al-Qur’an senantiasa terdengar di rumah-rumah, area perkantoran, mushala, masjid, hingga di tengah perjalanan. Allah Swt. telah mengingatkan hal ini melalui firman-Nya dalam Surah Yunus ayat 57:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Agar hati menjadi lega dan lapang, kaum mukmin juga dilarang keras membiarkan musuh menginjak-injak kehormatan mereka. Apabila musuh melakukan penyerbuan, maka kewajiban kaum mukmin adalah membalas serangan tersebut dengan perlawanan sengit.

Prinsip perjuangan ini seperti yang hari ini ditunjukkan oleh keteguhan kaum mukmin di Gaza dan Iran dalam melawan kebiadaban Zionis Israel. Allah Swt. memberikan penegasan di dalam Surah at-Taubah ayat 14:

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.”

Baik dalam situasi damai maupun berkecamuk perang, dalam kondisi bahagia ataupun sedih, Al-Qur’an terbukti selalu memancarkan energi inspirasi. Allah Swt. kembali mengingatkan kita melalui Surah Fushshilat ayat 44:

Berikut adalah teks Arab ayat 44 Surah Fushshilat beserta tanda bacanya:

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

“Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Al-Qur’an) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: ‘Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh’.”

Para sahabat Rasulullah saw. dikenal memiliki kedekatan yang sangat luar biasa terhadap Al-Qur’an. Mereka tidak sekadar membaca dan menghafal, melainkan mendalami, mengamalkan, serta menyebarluaskan kandungannya kepada umat manusia.

Para sahabat benar-benar berupaya menyelami makna setiap kata dan tidak mau membacanya secara sambil lalu. Karakter mulia ini tercermin dari penuturan salah seorang sahabat senior, Abdullah bin Mas’ud, yang berkata:

“Kami dahulu apabila mempelajari sepuluh ayat dari Al-Qur’an, kami tidak melanjutkan ke sepuluh ayat berikutnya sampai kami mengetahui maknanya dan mengamalkan kandungannya.”

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button