Bagaimana Netanyahu Kehilangan Amerika?
Ia bahkan rela menanggung kritik keras dari dalam negeri. Netanyahu membalasnya dengan serangkaian konfrontasi terbuka.
Ia menuduh Washington menahan pengiriman senjata dan menolak usulan Amerika mengenai pemerintahan Gaza pascaperang.
Netanyahu menghambat akses bantuan kemanusiaan serta berulang kali bertentangan dengan Gedung Putih mengenai berbagai persoalan strategis.
Di saat Biden menginvestasikan modal politik besar, Netanyahu justru lebih mementingkan menunjukkan kemandirian kepada basis politik domestiknya. Sementara itu, cara perang tersebut dijalankan telah mengubah persepsi dunia secara mendasar.
Pengeboman tanpa henti menghancurkan Gaza, meratakan rumah sakit, sekolah, universitas, dan seluruh kawasan permukiman.
Pembatasan bantuan kemanusiaan yang sangat ketat juga memunculkan peringatan akan bahaya kelaparan.
Para menteri senior Israel secara terbuka menyerukan pengusiran permanen warga Palestina, hukuman kolektif, dan penguasaan militer.
Apakah tindakan-tindakan tersebut memenuhi definisi hukum sebagai kejahatan perang akan diputuskan oleh pengadilan.
Namun secara politik, vonis publik sudah mulai terbentuk di seluruh dunia dan semakin kuat di Amerika Serikat. Hasil survei tersebut penting bukan hanya bagi Netanyahu secara pribadi.
Fakta bahwa hampir separuh warga Amerika percaya Perdana Menteri Israel seharusnya ditangkap mencerminkan perubahan besar persepsi publik. Hasil survei memang bisa berubah, tetapi pergeseran strategis tidak mudah berbalik.
Begitu sikap publik mengeras lintas generasi, membangun kembali kepercayaan menjadi pekerjaan yang sangat sulit.
Konsekuensi politik dari perubahan itu sudah terlihat jelas. Di dalam Partai Demokrat, dukungan tanpa syarat mulai bergeser menjadi tuntutan pengetatan bantuan militer sesuai hukum humaniter internasional.
Para pemilih muda membahas konflik Palestina-Israel dengan istilah pendudukan, apartheid, dan hak asasi manusia universal.
Anggota Kongres yang dahulu enggan mengkritik kini secara terbuka menantang kebijakan pemerintah Israel.
Bahkan dukungan dari Partai Republik pun tidak lagi dapat dianggap akan berlangsung selamanya.






