Bagaimana Netanyahu Kehilangan Amerika?
Kaum konservatif populis generasi muda mulai mempertanyakan komitmen luar negeri tanpa syarat.
Konsensus bipartisan yang dahulu melindungi Israel perlahan-lahan digantikan oleh situasi politik yang jauh lebih tidak menentu.
Koalisi pemerintahan Netanyahu semakin memperdalam krisis tersebut. Ia memberikan kekuasaan kepada menteri ultranasionalis yang mendukung aneksasi dan menolak hak rakyat Palestina menentukan nasib sendiri.
Pemerintahannya telah mengaburkan batas antara retorika ekstrem dan kebijakan resmi negara. Kekerasan yang dilakukan para pemukim Yahudi serta ketiadaan pertanggungjawaban hukum semakin merusak citra Israel di mata dunia.
Hal yang paling mengungkapkan keadaan sesungguhnya adalah tidak adanya visi politik yang serius untuk mengakhiri konflik.
Netanyahu secara konsisten menolak pembahasan pembentukan negara Palestina dan menentang kembalinya Otoritas Palestina ke Gaza.
Ia tidak menawarkan kerangka kerja kredibel untuk rekonstruksi selain mempertahankan kendali militer jangka panjang.
Ini juga bukan semata-mata proyek pribadi Netanyahu. Mayoritas warga Israel dan hampir seluruh pemimpin politik memiliki pandangan sama.
Kekuatan militer memang dapat menghancurkan infrastruktur dan melemahkan kelompok-kelompok bersenjata.
Namun, militer tidak dapat menyelesaikan konflik nasional yang berakar pada klaim tanah, kedaulatan, dan hak menentukan nasib sendiri.
Dengan menolak memberikan prospek politik yang layak, Netanyahu membuat konflik berkepanjangan tampak sebagai kebijakan resmi pemerintah.
Sejarah mungkin akan lebih murah hati dalam menilai kemenangan taktis daripada kegagalan strategis.
Netanyahu memang berhasil meraih berbagai keuntungan diplomatik ketika menghadapi pemerintahan Amerika yang bersahabat. Namun, semua keberhasilan itu berdiri di atas fondasi yang dibangun selama puluhan tahun.
Fondasi tersebut adalah keyakinan bipartisan bahwa Israel merupakan sekutu strategis sekaligus mitra demokratis bagi Amerika Serikat.
Kini fondasi itu mulai tampak retak. Waktu dirilisnya hasil survei tersebut hampir tidak mungkin lebih simbolis.






