Berkaca Kasus Epstein, Habib Rizieq Bongkar Cara Amerika Jebak Pejabat untuk Kuasai SDA
Sumatera Selatan (SI Online) – Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab memaparkan pandangannya terkait kasus berkas Jeffrey Epstein yang saat ini ramai diperbincangkan publik dunia.
Ia menyoroti dugaan praktik penjebakan terhadap sejumlah politisi dunia melalui skandal seks yang direkam secara tersembunyi untuk kepentingan pemerasan politik.
Habib Rizieq mengawali penjelasannya dengan menyinggung sosok Jeffrey Epstein, seorang miliarder Amerika keturunan Yahudi yang dikenal memiliki jejaring luas dengan kalangan pengusaha, pejabat, hingga tokoh dunia. Ia menyebut Epstein mengundang para tokoh tersebut ke pulau pribadinya yang dikenal luas sebagai “Pulau Setan” (Little Saint James).
Menurut Habib Rizieq, para tamu yang datang diduga disuguhi minuman keras, narkoba, serta perempuan di bawah umur. Ia menyatakan bahwa aktivitas para tamu tersebut direkam melalui kamera tersembunyi tanpa sepengetahuan mereka.
“Begitu mereka pulang ke negaranya masing-masing, rekaman itu menjadi alat tekanan. Di situlah terjadi yang saya sebut sebagai pemerasan politik,” ujar Habib Rizieq dikutip Suara Islam, Rabu (11/2/2026) melalui video ceramahnya baru-baru ini di Pondok Pesantren Qodratullah, Sumatera Selatan.
Ia juga menyinggung bahwa sejumlah pemimpin dunia disebut-sebut terseret dalam berkas tersebut. Kasus Epstein sendiri diketahui ditangkap pada 2019 dan kemudian ditemukan meninggal dunia di dalam sel tahanan. Skandal ini telah diangkat dalam sejumlah dokumenter, termasuk yang tayang di platform streaming sejak 2020, dan kini kembali ramai diperbincangkan setelah sebagian dokumen pengadilan dibuka ke publik.
Dalam ceramahnya, Habib Rizieq menyampaikan pandangan bahwa skandal semacam itu bisa dimanfaatkan sebagai cara licik untuk menekan kebijakan politik suatu negara.
Ia mencontohkan, apabila seorang anggota parlemen atau pejabat memiliki rekam jejak yang memalukan dan terdokumentasi, maka dokumen tersebut dapat digunakan untuk memengaruhi sikap politiknya, termasuk dalam pembahasan undang-undang yang berkaitan dengan kepentingan asing.
“Kalau tidak mengikuti arahan, rekamannya bisa disebarkan. Di situlah terjadi tekanan. Ini yang saya dengar sejak awal tahun 2000-an,” tuturnya.
Habib Rizieq mengaku tidak heran dengan adanya kasus Epstein ini, pasalnya ia pernah mendengar pola yang mirip apa yang dilakukan Amerika terhadap politisi yang hendak digarapnya.
Habib Rizieq menceritakan pengalamannya sekitar awal 2000-an ketika menghadiri pertemuan bersama dua tokoh Partai Bulan Bintang (PBB), almarhum Ustaz Ahmad Sumargono dan Ustaz Hartono Mardjono.
Ia menuturkan bahwa dalam pertemuan tersebut, Ahmad Sumargono memberi nasihat kepada politisi muda agar berhati-hati ketika melakukan kunjungan ke negara Barat, khususnya Amerika.





