RESONANSI

Cara Mudah Belanda dan Oligarki Merobohkan Benteng Pertahanan di Ibu Pertiwi

Untuk berebut duit yang tersepit di rimbunan rumpun buluh itu ada di antara mereka yang mematahkan buluh, menebang dan memotong buluh dan akhirnya cangkul di gunakan untuk mencabut rumpun buluh dengan harapan akan ditemukan banyak duit lagi di dalamnya.

Maka terungkalah buluh yang menjadi kubu pertahanan pribumi karena tidak tahan dengan umpan yang sedikit masa depan anak cucu jadi taruhannya.

Sehingga ada sebuah kampung namanya Aur Tajungkang yang berarti aur, buluh, bambu, tolang, pering yang terjungkal alias tercabut sampai ke akar-akarnya.

Apa yang terjadi, negeri tiada kubu pertahanan lagi.. maka tidak lama setelah itu pasukan Belanda menyerbu kubu, membunuh anak negeri, merampas kekayaannya, menodai gadis-gadis, menjajah dan menguasai ibu pertiwi dan anak negeri akhirnya menjadi budak hamba abdi di negeri sendiri..

Kalau kita lihat sejarah bagaimana oligarki mampu menjajah dan menguasai negeri ternyata mungkin teorinya adalah ditiru dari Belanda yang menaburkan uang perak di rumpun buluh.

Uang perak itu mungkin berupa bansos yang diserahkan musim kampanye, membayar para marsose dan pengkhianat dan hiburan rakyat yang membuat mereka lupa bahwa merekalah pemilik negeri sebenarnya.

Seperti kakek yang kehilangan tongkat banyak kali, sekarang benteng pertahan itu kembali berhasil dirobohkan oleh penjajah oligarki.

Hanya dengan taburan sedikit sembako yang hanya mampu buat makan keluarga seminggu, masa depan negara, bangsa dari segi sosial ekonomi politik pembangunan budaya di pertaruhkan dalam jangka bertahun lamanya.

Mudah tertipu dengan kesenangan bayangan fatamorghana yang sementara seperti dongeng seekor anjing yang melepaskan tulang di mulutnya karena melalui di sungai yang dia lalu disangka ada anjing lain yang sedang menggigit tulang di bawahnya.

Barangkali teori mengungka buluh ini ada kemiripan dengan pepatah Arab yang mengatakan, laparkan anjingmu maka kamu akan mudah memperbudaknya. []

Afriadi Sanusi, PhD., Aktivis anti korupsi dan good governance.

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button