TEKNOLOGI

Di Balik Layar Suasana Digital

Demokrasi Emosi

Dalam logika algoritma, yang paling sering dilihat bukanlah yang paling benar, melainkan yang paling menarik. “Virality over validity,” begitu istilah yang populer di kalangan pengamat media. Maka tidak heran jika kebenaran sering kalah cepat dari sensasi.

Fenomena ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga politik. Dalam suasana digital yang dikendalikan mesin, wacana publik pun ikut diarahkan. Trending topic menjadi arena perebutan makna. Siapa yang menguasai algoritma, menguasai narasi.

Di Indonesia, ini tampak nyata dalam setiap kontestasi politik—dari pemilu hingga isu sosial. Buzzers dan influencers kini bukan sekadar penggembira, tetapi bagian dari mesin pembentuk persepsi publik. Dalam skala global, kasus Cambridge Analytica pada 2016 menjadi bukti bahwa algoritma bisa mengubah hasil pemilu.

Manusia di Antara Mesin

Namun, meski terasa menakutkan, tidak berarti kita sepenuhnya tak berdaya. Algoritma tidak menciptakan kejahatan; ia hanya memperbesar perilaku manusia. Masalahnya adalah bagaimana kita, sebagai pengguna, menyadari bahwa setiap “like”, “share”, dan “scroll” adalah keputusan politik dan ekonomi sekaligus.

Di titik ini, literasi digital menjadi tameng terakhir. Novi Kurnia menegaskan bahwa “melek digital bukan lagi soal bisa pakai ponsel, tapi mampu berpikir kritis terhadap apa yang dilihat di layar.”

Sayangnya, pendidikan formal kita belum menempatkan literasi digital sebagai prioritas. Padahal, dalam masyarakat yang nyaris seluruh perilakunya bergantung pada aplikasi, kemampuan membaca algoritma seharusnya setara pentingnya dengan membaca teks.

Antara Etika dan Ekonomi

Perdebatan tentang etika algoritma kini menggema di seluruh dunia. Uni Eropa, misalnya, telah mengesahkan Artificial Intelligence Act yang mengatur penggunaan algoritma untuk memastikan transparansi dan keadilan. Indonesia juga mulai melangkah dengan menyusun pedoman etik kecerdasan buatan, namun penerapannya masih jauh dari ideal.

Di sisi lain, korporasi digital terus memanfaatkan ruang abu-abu itu. Mereka berbicara tentang inovasi, tetapi enggan berbagi kendali. Padahal, ketika algoritma menentukan apa yang kita lihat, siapa yang kita percayai, dan apa yang kita beli, ia pada dasarnya sedang menjalankan fungsi yang dulu hanya dimiliki negara: mengatur perilaku warganya.

Epilog

Kita mungkin tak bisa hidup tanpa algoritma, tapi kita bisa memilih bagaimana hidup bersamanya. Menyadari bahwa setiap notifikasi adalah undangan untuk berpikir, bukan hanya bereaksi. Bahwa suasana yang ditawarkan layar bukan kebenaran, melainkan cermin dari hasrat yang direkayasa.

Di balik bayang algoritma, manusia masih punya satu keunggulan yang tak bisa dihitung: kesadaran. Dan selama kesadaran itu hidup, masih ada ruang bagi kita untuk menata ulang relasi antara pikiran, teknologi, dan kemanusiaan.[]

Muhibbullah Azfa Manik

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button