TEKNOLOGI

Di Balik Layar Suasana Digital

Setiap kali layar ponsel menyala, hidup kita disambut oleh sesuatu yang terasa pribadi—padahal sepenuhnya dikalkulasi. Warna, nada, dan urutan konten di layar bukan hasil kebetulan, tapi hasil rumus yang disusun oleh mesin bernama algoritma.

Ia tahu kapan kita sedang gembira, jenuh, lapar, atau kesepian. Ia tahu kapan harus menampilkan diskon, berita, atau wajah seseorang yang dulu kita cari. Di dunia digital hari ini, emosi menjadi komoditas paling laku di pasaran.

“Algoritma adalah arsitek suasana,” kata Wahyu Dhyatmika, CEO Tempo Digital, dalam sebuah forum jurnalisme daring beberapa waktu lalu. “Ia mengatur bagaimana kita merasa, bukan sekadar apa yang kita lihat.” Pandangan ini sejalan dengan apa yang disebut banyak pengamat sebagai emotional engineering—rekayasa perasaan melalui pola konsumsi media.

Di balik layar, algoritma bekerja bukan dengan logika sebab-akibat sederhana. Ia mengamati perilaku kita, menyimpannya, lalu memprediksi langkah berikutnya. Setiap geseran jari, setiap klik iklan, menjadi bahan bakar sistem yang terus belajar. Lama-lama, sistem itu mengenal kita lebih dalam daripada teman sendiri.

Suasana yang Dijual

Dr. Novi Kurnia, pengajar komunikasi digital di Universitas Gadjah Mada, menyebut marketplace seperti Shopee, Tokopedia, atau TikTok Shop bukan sekadar ruang jual beli. “Mereka produsen suasana,” katanya dalam sebuah diskusi akademik di Yogyakarta. “Yang dijual bukan hanya barang, tapi perasaan aman, percaya, dan ingin.”

Dan memang, di era digital, belanja tak lagi rasional. Kita membeli bukan karena perlu, tapi karena algoritma membuatnya terasa penting. Sebuah notifikasi “diskon terbatas 3 jam” bukan hanya promosi, tapi strategi psikologis untuk menimbulkan rasa kehilangan yang dibuat-buat (artificial urgency).

Fenomena ini memperlihatkan wajah baru kapitalisme digital: kita tidak lagi sekadar konsumen, tapi juga bagian dari mesin produksi data. Tiap klik, tiap jeda pada video, adalah informasi bernilai miliaran yang menentukan strategi bisnis besar di balik layar.

Namun, seperti dua sisi mata uang, kekuatan algoritma juga bisa menjadi jebakan. Ia memberi kesempatan bagi pelaku usaha kecil untuk muncul, tetapi juga bisa menenggelamkan mereka dalam sekejap. Sekali sistem menilai bahwa konten mereka tak relevan, eksposur bisa anjlok, penjualan ikut jatuh.

Ketimpangan Digital

Di balik gemerlapnya promosi daring, tersembunyi ketimpangan besar: siapa yang paham ritme algoritma akan bertahan, siapa yang tidak—akan hilang. UMKM yang tidak memiliki modal pengetahuan digital dipaksa bersaing dengan korporasi yang punya tim data analytics dan strategi SEO canggih.

Dalam laporan We Are Social tahun 2025, Indonesia memiliki lebih dari 185 juta pengguna internet aktif, dengan rata-rata waktu berselancar lebih dari delapan jam per hari. Dari waktu itu, hampir setengahnya dihabiskan di platform e-commerce dan media sosial. Di sinilah algoritma bekerja paling efektif: mengubah perhatian menjadi transaksi.

Tetapi atensi adalah sumber daya yang tidak seimbang. Di tangan yang salah, ia bisa menjadi alat manipulasi. Sebuah eksperimen oleh Universitas Stanford menunjukkan bahwa pengguna media sosial cenderung membeli produk yang tampil di 10 konten pertama, terlepas dari kualitas atau harga. Artinya, posisi di beranda lebih menentukan daripada nilai produk itu sendiri.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button