Domisil Moonow: Ketika Abon Kenangan Habis di Tengah Pelayaran
Perpaduan Rempah Agama dan Adat
Rempah-rempah pada abon tidak hanya bercerita tentang suku yang majemuk. Ia juga menghidupkan aroma perpaduan antara agama dan adat setempat.
Rempah agama di wadah Domisil tidak serta-merta menghilangkan rasa dan aroma dari rempah adat. Agama dan adat saling memahami dalam perpaduan, lalu bersatu dalam menyumbang rasa secara proporsional.
Pada perayaan nisfu sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), misalnya, acara selalu diawali dengan berdoa dalam bahasa Mongondow. Bunyi doanya adalah sebagai berikut: “Yoh, intau in ki Allah, ki Tuhan podiondon, aka nonota’don i kitabin in ki barakat, kabal, bo katu’an potali katumbahagiaan kon saongai.”
Arti dari doa daerah tersebut adalah, “Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih, semoga Engkau melimpahkan berkah, keselamatan dan panjang umur, serta kebahagiaan setiap hari.” Nuansa perpaduan agama dan adat ini nampak sangat jelas juga saat masyarakat mengadakan tablig akbar.
Ketika pengisi tablig akbar, Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. H. Muhammad Zainul Majdi (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah atau NWDI), menginjakkan kaki di lokasi acara, tari tuitan segera ditampilkan sebagai bentuk sambutan penghormatan. Tari tuitan sendiri adalah sebuah tarian daerah tradisional yang lazim dimainkan dalam acara penjemputan raja.
Penyambutan yang demikian menjadi sebuah gambaran nyata dari semangat keagamaan yang kuat. Hal tersebut juga menunjukkan kecintaan yang mendalam kepada warisan leluhur yang melekat.
Aroma Toleransi Beragama
Tidak hanya aroma kemajemukan suku dan perpaduan agama-adat saja yang terasa di sana. Jika kita sedikit melangkah keluar dari tanah Domisil, toleransi beragama turut memperkaya cita rasa hari-hari di Kecamatan Sang Tombolang secara umum.
Umat Islam dan Nasrani hidup rukun dengan kesadaran toleransi beragama yang terjaga dengan baik. Hubungan mereka bagaikan rempah-rempah yang saling mengikat erat setelah dipanaskan oleh api yang sederhana.
Masih terlintas dengan jelas di ingatan ketika kami melaksanakan salat magrib di sebuah musala di Desa Batu Merah, tetangga Desa Domisil. Pada saat yang sama, di seberang jalan sedang melantunkan lagu rohani gereja.
Tiada satu pun pihak yang saling mengusik jalannya ibadah orang lain. Tiada pula pihak yang merasa terganggu oleh aktivitas keagamaan tetangganya.
Demikian juga ketika kami duduk di teras menikmati makanan ringan selepas ibadah tarawih. Lewatlah salah seorang umat Nasrani sambil mengucapkan “selamat malam” dengan sedikit menunduk dan melambaikan tangan sebagai simbol persaudaraan.
Kami pun menjawab sapaan tersebut dengan ramah. Seketika itu, makanan ringan yang kami santap terasa bertambah hangatnya.
Aroma toleransi beragama kian berseri pada momentum Idulfitri di musala yang sama. Waktu itu, saya sendiri bertindak sebagai khatib salat.
Saudara-saudara dari umat Nasrani turut mengucapkan selamat, baik secara lisan maupun melalui gerak tubuh. Mereka bahkan bersedia membantu untuk memastikan kelancaran salah satu ibadah besar umat Islam itu.
Semua tindakan mulia itu mereka lakukan tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Semua itu berlangsung dengan penuh keikhlasan antarsesama warga.
Saya masih dibayangi rasa bersalah karena lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka di atas mimbar Idulfitri waktu itu. Saya berdoa semoga kebaikan mereka dibalas oleh Tuhan dengan berlipat kebaikan.
Kebersamaan kami dengan saudara-saudara dari umat Nasrani tidak berhenti sampai di hari yang fitri saja. Pada perayaan tablig akbar yang digelar dua minggu setelah hari raya, mereka datang memenuhi undangan kami.






