Domisil Moonow: Ketika Abon Kenangan Habis di Tengah Pelayaran
Kehadiran mereka bertujuan untuk menguatkan ikatan persaudaraan antaragama, persaudaraan setanah air, dan persaudaraan sesama insan. Di antara para undangan yang hadir, terlihat para pendeta dan jemaat gereja setempat.
Saya, dan mungkin banyak orang yang hadir di sana, merasa sangat terharu atas kehadiran mereka. Acara tablig akbar itu memang bertujuan untuk menguatkan tali persaudaraan, baik sesama muslim maupun dengan saudara-saudara nonmuslim, khususnya umat Nasrani.
Langkah ini diambil untuk menciptakan kesan bahwa perayaan keagamaan suatu agama tidak boleh menyinggung perasaan pemeluk agama lain. Kebersamaan ini menjadi bukti nyata indahnya hidup berdampingan.
Ikan Naturalistik
Berbeda dengan rempah-rempah yang menceritakan kemajemukan dan toleransi, ikan sebagai bahan utama abon membisikkan pesan lain. Ia membisikkan keindahan pantai dengan kebersihan dan kejernihan airnya.
Alamnya dihiasi bukit-bukit yang hijau oleh pohon-pohon yang berdiri tegak di atasnya. Sungai-sungai di sana juga mengalir bersih dengan kesejukan air yang alami.
Semua keindahan lanskap tersebut tergambar dengan jelas di tanah Domisil. Jika Anda ingin melihat ombak tenang dengan ikan berlalu-lalang, pergilah ke area pantai.
Jika ingin melihat hijaunya bukit yang asri, cukup langkahkan kaki keluar dari pekarangan rumah. Jika ingin mendengar suara air yang mengalir dan merasakan kesejukannya, Anda tidak perlu berlari melewati batas desa.
Domisil telah menyediakan seluruh kekayaan alam tersebut secara cuma-cuma. Sudut-sudut Domisil begitu kuat mengikat mata, seakan sudut-sudut itu menjelma menjadi kata-kata naturalistik yang nyata.
Selain mengikat mata yang memandang, tanah Domisil tidak lupa memberikan janji kehidupan bagi warganya. Sektor laut dan darat adalah tempat utama bagi masyarakat untuk mengais rezeki.
Di laut yang masih menampakkan kejernihan, para nelayan menyalakan mesin perahunya untuk menangkap ikan. Sementara itu, sawah dan kebun yang subur menjadi tumpuan harapan bagi petani padi, cabai, jagung, kelapa, dan tumbuhan lainnya.
Sungai-sungai di sana pun tetap setia memelihara ekosistem belut, udang, bahkan ikan air tawar. Sudah menjadi amanah besar bagi masyarakat Domisil untuk terus merawat seluruh kekayaan alam ini.
Hari demi hari di Domisil Moonow, mata kami telah merekam ikatan toleransi bersuku dan beragama yang kuat. Perpaduan agama dan adat di sana juga terbukti melekat, serta kemurnian alamnya tetap terawat dengan baik.
Domisil bagaikan sebuah ikhtisar penting bagi kita semua. Walaupun statusnya hanya desa kecil, ia menyimpan seribu satu makna kehidupan.
Abon ikan dalam toples besar itu kemudian menceritakan kembali kenangan lama. Ia memutar ulang rekaman memori saat kaki kami masih menginjakkan tanah di desa itu.
Saat ini, abon tersebut telah habis di tengah pelayaran. Hal itu menandai usainya perjumpaan kami dengan masyarakat Domisil pada momentum safari Ramadan yang lalu.
Tetapi, kenangan bersama mereka dan desa itu tidak akan pernah hilang ditelan waktu. Rekaman memori itu tidak akan pernah terhenti walau dihadang jarak yang membentang.
Syukur moanto’ (terima kasih banyak), masyarakat dan tanah Domisil Moonow.[]






