Donald Trump dan Merosotnya Peradaban Amerika
Trump dikenal memiliki basis kuat dari Kristen Evangelikal Zionis, sebuah kelompok yang secara teologis mendukung Israel bukan atas dasar keadilan universal, tetapi keyakinan eskatologis (Spector, 2009).
Hubungan Trump dengan Benjamin Netanyahu memperkuat kritik bahwa kebijakan AS di Timur Tengah semakin bias dan tidak netral. Amerika memang sejak lama selalu menempatkan Israel sebagai anak kesayangannya. Inggris dan Amerika yang mensponsori berdirinya negara Israel pada 1948.
Dari perspektif akademik, Donald Trump bukan sekadar figur kontroversial, tetapi gejala struktural kemunduran peradaban politik Amerika. Kebijakan luar negeri unilateral, pembenaran kekerasan geopolitik, relasi ideologis dengan Zionisme politik, serta krisis etika personal menunjukkan gejala ini.
Sebagaimana dikemukakan Ikenberry (2020), “Bahaya terbesar bagi Amerika bukanlah musuh eksternal, melainkan runtuhnya komitmen internal terhadap norma yang membesarkannya.”
Pakar politik internasional, Amien Rais menyatakan, “Amerika negara adidaya, membabi buta membela kebengisan Israel. Bahkan di masa Presiden Donald Trump kepentingan Israel dijadikan bagian dari kebijakan nasional Amerika.”
Lebih jauh Amien menyatakan, “Trump sebagai presiden terburuk sepanjang sejarah AS, mengutip pandangan sejumlah sejarawan dan jurnalis yang menilai kepemimpinannya sebagai berdarah dingin dan sosiopatik (suka berbohong dan tidak peduli orang lain).“
Walhasil, invasi Trump ke Venezuela itu mengingatkan banyak orang dengan invasi yang dilakukan Presiden George W Bush ke Irak pada tahun 2003. Ada beberapa kesamaan keduanya. Pertama, sama-sama menjalankan politik imperialis Amerika. Kedua, sama-sama ditopang Kristen Evangelis (Kristen pro Zionis) garis keras. Ketiga, memicu instabilitas global.
Warisan Bush adalah lebih 500 ribu rakyat Irak meninggal dan menimbulkan ketidakstabilan Timur Tengah. Trump mendukung penuh Netanyahu yang telah menewaskan sekitar 80 ribu rakyat Gaza dan kini membuat panas hawa politik di Amerika Latin, khususnya Vanezuela. Entah berapa jiwa lagi yang akan menjadi korban akibat nafsu imperialis Trump ini. Wallahu azizun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






