OPINI

Dunia Islam di Mata Syekh Said Ismagilov

Fakta bahwa ISIS tidak memiliki persenjataan berat dan tidak menjalankan syariat mengindikasikan adanya kepentingan geopolitik besar. Gerakan tersebut bahkan didanai oleh penjualan minyak kepada pihak-pihak yang tidak jelas.

Pernyataan kontroversialnya bahwa “Rusia lebih buruk dari ISIS” menggambarkan ancaman nyata dari negara adikuasa. Negara dengan kapasitas nuklir dan rekam jejak genosida dinilai jauh lebih berbahaya daripada gerakan teroris lokal.

Ismagilov juga membedakan radikalisme Sunni (ISIS) dan teokrasi Syiah (Iran) dengan cermat. Iran adalah negara terstruktur dengan kendali penuh atas gerakan keagamaan.

Sejak revolusi 1979, Iran dinilai gagal memperluas model Syiah ke dunia Sunni. Namun, negara tersebut tetap menjadi ancaman melalui investasi pada kelompok minoritas di Lebanon (Hizbullah) dan Yaman (Houthi).

Baginya, dinamika Timur Tengah tidak bisa disederhanakan menjadi satu varian radikalisme semata. Setiap kekuatan memiliki logika geopolitik serta teologis yang berbeda di tengah fase transisi dunia Islam.

Ismagilov menyoroti perbedaan mendasar antara komunitas Muslim di Eropa Timur dan Eropa Barat. Muslim Ukraina, Bulgaria, atau Balkan terintegrasi dalam masyarakat sekuler tanpa membentuk wilayah terisolasi (ghetto).

Sebaliknya, komunitas migran di Prancis atau Inggris hidup dalam enklaf terisolasi. Kondisi tersebut melanggengkan kemiskinan, kriminalitas, dan potensi radikalisme.

Ia menyarankan agar politisi Eropa belajar dari model Eropa Timur. Model ini memungkinkan Muslim menjadi bagian dari masyarakat tanpa kehilangan identitas keislaman mereka.

Ini adalah pesan penting bagi dunia Islam secara global bahwa integrasi bukanlah pengkhianatan identitas. Langkah ini merupakan syarat utama untuk menghindari jebakan ekstremisme.

Ia juga menunjukkan kepedulian terhadap isu Palestina melalui pernyataan resmi dan tindakan nyata. Administrasi Keagamaan Muslim Ukraina “Ummah” yang dipimpinnya mengeluarkan pernyataan resmi mengenai peristiwa di Palestina.

Umat Muslim Ukraina secara konsisten mendoakan para korban di Palestina. Dalam sebuah wawancara, Ismagilov menyebutkan bahwa komunitasnya mencakup para pengungsi yang melarikan diri dari Gaza.

Ia secara terbuka mengecam kekerasan Israel di Masjid Al-Aqsa dan menegaskan Yerusalem Timur sebagai wilayah Palestina sesuai hukum internasional. Tindakan okupasi Israel di wilayah tersebut dinilai ilegal.

Sikap ini konsisten dengan pandangannya bahwa konflik di mana pun memerlukan solidaritas kemanusiaan. Hal ini mencerminkan komitmennya terhadap hak-hak rakyat Palestina di tengah pengabdiannya membela Ukraina.

Masa depan Islam kontemporer sangat ditentukan oleh kemampuan komunitas Muslim untuk membangun kehidupan yang bermartabat dan berpendidikan. Pandangan Ismagilov patut menjadi bahan renungan bagi suara umat Islam global saat ini.[]

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button