Ego yang Membunuh Dakwah
Sejarah mencatat, banyak organisasi atau jamaah yang melemah bahkan bubar setelah ditinggal pemimpinnya, justru karena tidak pernah lahir penerus yang disiapkan di atas panggung. Seorang ulama berkata:
«مَوْتُ جِيلٍ دُونَ تَرْكِ خَلَفٍ كَانْقِطَاعِ سِلْسِلَةِ الْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ»
“Mati satu generasi tanpa meninggalkan penerus, sama dengan memutus rantai ilmu dan dakwah.”
Panggung itu sebenarnya bukan milik kita. Panggung dakwah milik umat. Panggung perusahaan milik tim. Panggung politik milik rakyat. Kalau kita menganggapnya milik pribadi, kita akan selalu takut kehilangan.
Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam al-Hikam menulis:
«لَا تُنَافِسْ فِي شَيْءٍ يَفْنَى، وَسَابِقْ فِي مَا يَبْقَى»
“Janganlah engkau bersaing dalam sesuatu yang fana. Tapi berlombalah dalam sesuatu yang kekal bersama Rabb-ul-‘Izzah.”
Islam menambahkan resep mujarab: ikhlas. Orang yang ikhlas tidak sibuk dengan lampu sorot. Ia sibuk dengan ridha Allah. Hasan al-Bashri berkata:
«اعْمَلُوا لِلَّهِ فِي السِّرِّ أَعْمَالًا صَالِحَةً كَمَا تَعْمَلُونَ فِي الْعَلَانِيَةِ، فَإِنَّ الْمُخْلِصَ لَا يُبَالِي أُثْنِيَ عَلَيْهِ النَّاسُ أَمْ ذَمُّوهُ»
“Beramallah kalian untuk Allah dalam hal-hal yang tersembunyi sebagaimana kalian beramal dalam hal-hal yang tampak. Sebab yang ikhlas itu tidak peduli dipuji manusia atau dicela.”
Salah satu cara terbaik melahirkan penerus adalah dengan memberi mereka panggung, bukan sibuk mencari panggung untuk diri sendiri. Kiai-kiai pesantren dahulu sangat paham hal ini. Mereka tidak segan mendorong santri muda tampil: mengisi pengajian kecil di langgar kampung, khutbah di masjid desa, atau mengajar adik kelasnya. Dari “panggung kecil” itu tumbuh ulama besar yang kelak mampu berdiri di hadapan ribuan jamaah.
Ada ungkapan pesantren:
«إِذَا لَمْ يُدْفَعِ الطَّالِبُ لِلتَّحَدُّثِ، سَيَبْقَى طُولَ عُمْرِهِ خَلْفَ شَيْخِهِ»
“Kalau santri tidak pernah dipaksa bicara, seumur hidup ia hanya bersembunyi di balik kiai.”
KH. Hasyim Asy’ari misalnya, sering memberi ruang bagi murid-muridnya untuk mengajar. Beliau tidak khawatir wibawanya berkurang—justru dari langkah itu lahir ulama besar: KH. Wahid Hasyim, KH. Bisri Syansuri, KH. Wahab Hasbullah. Seperti lilin yang menyalakan lilin lain, cahaya guru tidak berkurang ketika menyalakan cahaya muridnya. Justru semakin banyak cahaya yang mengusir gelap gulita.






