Ego yang Membunuh Dakwah
Coba bayangkan kalau para ulama besar dulu enggan berbagi panggung. Mungkin kita tidak akan pernah kenal Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad. Mereka saling menghargai, bahkan saling mengkritik dengan cinta. Imam Syafi’i berkata:
«رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ»
“Pendapatku benar, tapi bisa salah. Pendapat orang lain salah, tapi bisa benar.”
Itu menunjukkan keluasan hati dalam mencari kebenaran, bukan mempersempit panggung untuk diri sendiri. Panggung dunia ini fana. Lampunya akan padam. Tirainya akan turun. Yang abadi hanyalah catatan amal di sisi Allah. Maka, berbagi panggung sebenarnya bukan kehilangan, tapi justru investasi. Yang tua mendidik yang muda. Yang muda menghormati yang tua. Jamaah—atau publik—akan jauh lebih kaya.
Yang harus kita sadari: tidak berbagi panggung itu bukan sekadar soal ego, tapi ancaman nyata bagi kelanjutan dakwah dan hilangnya regenerasi umat. Karena panggung yang sempit bukan karena ukurannya. Tapi karena hati kita yang tidak mau melapangkannya. Wallahu musta’an.
Muhammad Fitrianto, S.Pd.Gr., Lc, M.A., M.Pd, C.ISP, C.LQ., Pendidik di SMAIT Ar Rahman Banjarbaru.






