IBADAH

Filosofi Rajab dalam Tradisi Spiritualitas Islam (Bagian 1)

Dalam suatu pelaksanaan salat Jumat, penulis menyimak penjelasan khatib mengenai makna kata “Rajab” dari sudut pandang simbolik huruf-hurufnya. Ia menjelaskan bahwa huruf rā’ (ر) dalam kata Rajab dimaknai sebagai ramatullāh (رحمة الله), yakni rahmat Allah SWT yang sangat luas.

Maknanya, pada bulan Rajab rahmat Allah seakan “dihamparkan” secara lebih nyata bagi hamba-hamba-Nya, meskipun pada hakikatnya rahmat Allah senantiasa meliputi segala sesuatu dan tercurah kepada seluruh makhluk-Nya pada setiap waktu.

Huruf jīm (ج) dimaknai sebagai jūdullāh (جود الله), yaitu kedermawanan dan kemurahan Allah SWT. Dengan demikian, bulan Rajab dipahami sebagai bulan di mana kemurahan dan karunia Allah tampak lebih luas bagi hamba-hamba-Nya, khususnya bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam bertobat dan memperbanyak amal saleh. Adapun huruf bā’ (ب) dimaknai sebagai barakatullāh (بركة الله), yaitu keberkahan Allah. Barakah dimaknai sebagai bertambahnya kebaikan ilahiah pada suatu kebaikan yang telah ada.

Sebagai contoh, memperoleh rezeki yang halal merupakan suatu kebaikan dan bagian dari rahmat Allah. Namun, ketika dari rezeki halal tersebut lahir kebaikan-kebaikan lain yang bersifat ilahiah—seperti meningkatnya semangat beribadah, ketenangan dalam keluarga, serta terjaganya keharmonisan hidup—maka itulah yang disebut sebagai keberkahan.

Apa yang telah dijelaskan di atas mengenai tafsir kata “Rajab” merupakan bentuk kesan dan refleksi seseorang terhadap bulan Rajab. Tentu saja, setiap individu dapat memiliki kesan dan refleksi yang berbeda-beda, bergantung pada sejauh mana ia menghayati dan memaknai bulan tersebut.

Riyāah al-Nafs

Huruf rā’ dari kata “Rajab” dimaknai sebagai riyāah al-nafs (رياضة النفس), yakni latihan jiwa atau melatih diri. Dalam pandangan Islam, manusia sejak kelahirannya memiliki potensi baik dan potensi buruk. Namun, potensi baik pada dasarnya lebih unggul dan paling mendasar, yaitu berupa fitrah mengesakan Allah SWT. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa manusia pada hakikatnya memiliki potensi kebaikan dan kecenderungan untuk menjadi baik.

Seiring berjalannya waktu, pertambahan usia, serta pengaruh pendidikan dan lingkungan, potensi kebaikan tersebut kerap tertutupi oleh berbagai kecenderungan buruk, sehingga seakan-akan terpendam dan tertutup olehnya. Agar potensi kebaikan itu kembali bersinar dan berfungsi sebagaimana mestinya, noda-noda keburukan tersebut harus dibersihkan secara rutin dan berkelanjutan.

Keadaan ini dapat diibaratkan seperti sebuah cermin. Cermin akan kembali memantulkan objek secara jelas apabila permukaannya bersih dari debu dan kotoran yang menempel. Selain itu, agar pantulan yang dihasilkan tetap lurus dan proporsional, cermin tersebut harus berbentuk datar, bukan cekung atau cembung. Dengan demikian, pembersihan jiwa harus disertai dengan penjagaan keseimbangan agar potensi kebaikan dapat terpancar secara utuh dan seimbang.

Imam al-Ghazali dalam Iyā’ menulis: “Sesungguhnya jiwa memiliki sifat-sifat tercela yang harus dibersihkan dan disucikan agar dapat mencapai kebahagiaan abadi dan kedekatan dengan Allah.”

Dalam Kitāb al-Arba’īn fī Uṣūl al-Dīn, ujjatul Islam itu juga menulis: “Hati itu laksana cermin; hakikat-hakikat kebenaran tidak akan tampak padanya kecuali dengan memoles, menerangi, dan meluruskannya. Adapun memolesnya ialah dengan menghilangkan karat syahwat dan kekeruhan akhlak tercela. Adapun meneranginya ialah dengan cahaya zikir dan makrifat; dan hal itu dibantu oleh ibadah yang ikhlas apabila dilaksanakan dengan kesempurnaan pengabdian sesuai tuntunan sunnah.”

Dalam diri manusia terdapat apa yang disebut dengan akhlak mulia (akhlāq mamūdah) dan akhlak tercela (akhlāq mażmūmah). Akhlak adalah perilaku—baik maupun buruk—yang telah menjadi kebiasaan seseorang, sehingga dapat dilakukan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan atau pemikiran terlebih dahulu.

Berdasarkan potensi baik dan buruk yang ada dalam diri manusia, apabila potensi kebaikan lebih dominan, maka akan lahir darinya akhlak yang mulia. Sebaliknya, apabila potensi keburukan yang lebih dominan, maka akan tampak dalam dirinya akhlak yang tercela.

1 2Laman berikutnya
Back to top button