Gaya Hidup Sehat, Kuliner Kukus dan Rebus Kian Laris Manis di Pagi Hari
Fenomena ini sejalan dengan maraknya kampanye gaya hidup sehat serta kesadaran lingkungan yang meluas di perkotaan. Mengonsumsi makanan minim proses (minimally processed food) kini dipandang sebagai representasi identitas hidup modern yang bertanggung jawab.
Melihat fenomena peralihan sarapan pagi ini, seorang ahli gizi mandiri (freelance nutritionist), Milda Hasna, memberikan catatan penting. Ia menilai tren ini sangat positif bagi penurunan lemak jenuh, namun mengingatkan agar masyarakat tidak menghindari lemak secara ekstrem.
“Secara ilmu gizi, asupan lemak tetap harus dipenuhi oleh setiap individu. Mengurangi asupan lemak secara berlebihan tanpa perhitungan justru merugikan tubuh,” jelas Milda dalam wawancara dengan Xinhua pada Minggu (21/6).
Milda memaparkan bahwa penghilangan lemak total dalam jangka panjang berisiko mengganggu penyerapan vitamin larut lemak (vitamin A, D, E, K), memicu ketidakseimbangan hormon, hingga menyebabkan kekurangan energi kronis. Sifat diet juga tidak boleh menimbulkan tekanan psikologis berlebih.
Sebagai panduan, Milda membagikan empat poin utama dalam memulai kebiasaan ini. “Yang pertama, perhatikan variasi makanan. Mayoritas menu rebusan di pasaran didominasi karbohidrat, seperti ubi, singkong, jagung, kentang. Penting untuk menambahkan sumber protein seperti telur rebus, tahu, tempe, atau kacang kedelai rebus agar sarapan menjadi seimbang,” paparnya.
Poin kedua adalah mencukupi kebutuhan serat dengan menambahkan buah potong atau sayuran. Poin ketiga dan keempat menekankan pada pembatasan saus tinggi kalori serta selektif terhadap higienitas tempat berjualan untuk menghindari gangguan pencernaan.
“Yang ketiga, batasi cocolan tinggi kalori. Hindari penggunaan saus kemasan atau mayones secara berlebihan yang justru merusak esensi sehat dari makanan kukus-rebus,” kata Milda.
Untuk mengatasi rasa hambar yang sering kali membuat orang menyerah, ia menyarankan penggunaan rempah alami yang kaya antioksidan. Penggunaan garam dan kaldu juga diperbolehkan secara bijak setelah makanan matang agar kuantitasnya bisa ditekan.
Khusus untuk penderita diabetes yang mengonsumsi umbi karena indeks glikemiknya yang rendah, Milda mengingatkan untuk tetap menjaga porsi agar tidak memicu lonjakan gula darah.
“Penderita diabetes dianjurkan menerapkan konsep 3 TJ. Pertama, tepat jenis dalam memilih karbohidrat dengan GI rendah dibanding karbohidrat kompleks olahan. Kedua, tepat jumlah dalam mengontrol porsi makanan dan mengimbanginya dengan porsi protein serta serat yang adekuat. Dan, ketiga, tepat jam dalam mengatur waktu makan secara konsisten demi menjaga kestabilan kadar glukosa darah,” urainya.
Pada akhirnya, meskipun metode memasak dengan dikukus atau direbus efektif memangkas kalori dari minyak, penurunan berat badan yang ideal tetap membutuhkan faktor pendukung lain. Kualitas tidur, manajemen stres, olahraga, dan kecukupan air putih memegang peranan yang sama pentingnya.
Milda menegaskan prinsip bahwa diet harus dijalani secara menyenangkan (diet should be fun). Jangan sampai pembatasan makanan memicu stres berlebih yang justru berujung pada fenomena diet yoyo, saat berat badan naik-turun drastis akibat diet ekstrem yang memicu relapse ke pola makan lama, tuturnya.
Kembali ke panganan lokal minim proses merupakan langkah awal yang baik untuk menyeimbangkan pola makan. Jika dijalani secara konsisten tanpa obsesi berlebih, tren kuliner kukus dan rebus ini berpotensi menjadi investasi kesehatan jangka panjang yang berharga. []
Sumber: Xinhua






