DAERAH

Gebyar Muharam 1448 H, Ikhtiar Wujudkan Ciracas Berbudaya Santri

Menurutnya, momentum Tahun Baru Islam harus dimaknai sebagai sarana refleksi atas perjuangan Rasulullah saw. dalam menyebarkan Islam.

“Kita memperingati tonggak hijrahnya Nabi Muhammad saw.. Tahun Baru Hijriah ini menjadi momentum introspeksi bagi kita semua. Sejauh mana perjuangan kita dalam menyebarkan nilai-nilai agama di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa peringatan Muharam selama ini selalu diisi dengan berbagai kegiatan positif yang variatif. Agenda rutin tersebut mulai dari bersedekah, silaturahmi, hingga penguatan ukhuwah islamiyah yang dikemas dalam suasana kebersamaan.

Menurut Pananggaran, salah satu gagasan yang ingin dikembangkan adalah optimalisasi ruang publik sebagai sarana edukasi keagamaan. Karena itu, kegiatan sengaja dilaksanakan di taman terbuka agar masyarakat terbiasa memanfaatkan fasilitas umum untuk aktivitas yang bernilai ibadah.

“Kita ingin taman-taman tidak hanya digunakan untuk olahraga atau rekreasi. Ke depan kita ingin melihat masyarakat membawa Al-Qur’an dan membacanya di taman. Itu menjadi hal yang biasa dan menjadi budaya di Ciracas,” katanya.

Agenda utama dalam Gebyar Muharam kali ini adalah Gerakan Ciracas Menulis Al-Qur’an. Dalam program tersebut, unsur aparatur sipil negara (ASN), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta organisasi Islam bersama-sama menulis Al-Qur’an secara simbolis.

Pananggaran menjelaskan bahwa satu mushaf Al-Qur’an lengkap 30 juz sengaja dibagi ke enam wilayah pelaksana, yakni satu kecamatan dan lima kelurahan di Ciracas. Masing-masing unit mendapat bagian lima juz untuk ditulis secara gotong royong oleh ASN, lurah, dan tokoh agama setempat.

“Hari ini kita mulai secara simbolis menulis bersama. Setelah itu akan dibawa pulang sebagai tugas masing-masing. Sekitar dua minggu kemudian akan kita kumpulkan kembali, lalu disatukan, digandakan, dan dijilid menjadi satu mushaf Al-Qur’an,” jelasnya.

Mushaf tersebut nantinya diharapkan menjadi warisan spiritual yang berharga bagi masyarakat setempat. Dokumen suci ini bernilai historis tinggi karena ditulis langsung oleh tangan para penggerak wilayah Ciracas.

Menurut Pananggaran Ritonga, kegiatan semacam ini sebenarnya telah dirintis sejak beberapa tahun lalu. Namun, pelaksanaannya sempat terhenti dalam waktu yang cukup lama akibat pandemi Covid-19.

Kini, setelah kondisi kembali normal, Pemerintah Kecamatan Ciracas bersama tokoh agama bertekad menghidupkan kembali tradisi luhur tersebut. Langkah ini dipandang strategis sebagai bagian dari pembangunan karakter masyarakat pascapandemi.

“Kami ingin membangkitkan kembali semangat kebersamaan dan syiar Islam di ruang-ruang publik. Harapannya, Ciracas menjadi wilayah yang religius, santun, aman, dan benar-benar berbudaya santri,” pungkasnya.[]

Rep: Nuim Hidayat

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button