Gen Z Alami Penuaan Dini, Mengapa?
Pernahkah kamu merasa wajah di cermin terlihat lebih lelah dari usia yang sebenarnya? Atau mungkin kamu mulai menyadari adanya garis halus di area mata, padahal usia baru menginjak kepala dua?
Jika iya, kamu tidak sendirian. Fenomena premature aging atau penuaan dini kini tengah menjadi perhatian serius, terutama bagi generasi milenial dan Gen Z yang hidup di era serba cepat ini.
Berdasarkan laporan terbaru dari laman berita Antara News yang dirilis pada Rabu (9/4/2025), fenomena ini bukan sekadar perasaan kolektif belaka.
Para ahli mulai membedah mengapa anak muda zaman sekarang justru lebih rentan mengalami tanda-tanda penuaan dibandingkan generasi sebelumnya pada usia yang sama.
Ancaman di Balik Layar: Blue Light dan Screen Time
Bagi Gen Z, hidup tanpa gadget rasanya hampir mustahil. Dari bangun tidur hingga menutup mata, kita hampir selalu terpapar layar. Namun, kebiasaan doomscrolling di media sosial atau bekerja lembur di depan laptop ternyata membawa dampak buruk bagi kesehatan kulit.
Narasumber dalam artikel tersebut, dr. Danar Wicaksono, Sp.DV, seorang dokter spesialis dermatologi dan venereologi, menjelaskan bahwa paparan blue light atau cahaya biru dari perangkat elektronik memiliki kontribusi besar terhadap penuaan kulit. Berbeda dengan sinar matahari yang memicu sunburn, cahaya biru ini mampu menembus lapisan kulit lebih dalam.
“Paparan blue light yang berlebihan dapat memicu stres oksidatif pada sel kulit. Akibatnya, produksi kolagen menurun dan muncul pigmentasi atau noda hitam yang membuat wajah tampak kusam,” ungkap dr. Danar dalam keterangannya di Antara News. Inilah alasan mengapa meskipun kita lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan (indoor), risiko penuaan tetap menghantui.
Tekanan Mental dan Gaya Hidup Hustle Culture
Bukan rahasia lagi jika milenial dan Gen Z sering disebut sebagai generasi yang paling stres. Tuntutan karir, hustle culture, hingga tekanan sosial yang terpampang nyata di Instagram dan TikTok menciptakan standar hidup yang sangat tinggi. Stres kronis ini ternyata berimbas langsung pada penampilan fisik.
Ads: Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Poltek Kesehatan kunjungi poltekkesgorontalo.org
Saat seseorang mengalami stres, tubuh melepaskan hormon kortisol dalam jumlah besar. Tingginya kadar kortisol dalam jangka panjang dapat memecah kolagen dan elastin, dua protein utama yang menjaga kulit tetap kenyal dan kencang. Ditambah lagi dengan pola tidur yang berantakan atau sleep deprivation demi mengejar deadline, proses regenerasi sel kulit pada malam hari menjadi terganggu. Hasilnya? Lingkaran hitam di bawah mata (dark circles) dan wajah yang kehilangan elastisitasnya.
Polusi Udara dan Ultra-Processed Food
Faktor lingkungan juga memegang peranan krusial. Hidup di kota besar seperti Jakarta berarti harus berteman dengan polusi udara setiap hari. Partikel polutan yang sangat kecil (PM2.5) dapat dengan mudah menempel dan merusak skin barrier kita. Kerusakan ini mempercepat munculnya kerutan dan garis halus.
Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji atau fast food dan makanan olahan (ultra-processed food) menjadi pemicu dari dalam. Makanan tinggi gula dan karbohidrat rafinasi memicu proses yang disebut glikasi.






