Hanya dengan Amar Makruf Nahi Mungkar, Umat Islam Menjadi Mulia
Munkar berasal dari akar kata Arab : نَكَرَ – يُنْكِرُ – إِنْكَارًا, yang maknanya tidak mengenal, mengingkari atau menolak sesuatu. Mungkar artinya sesuatu yang diingkari, ditolak atau tidak diakui oleh hati dan akal sehat. Manusia yang normal, cenderung benci kepada kemungkaran. Tapi bila hatinya sudah berkarat, bergelimang dosa ia akan senang dengan kemungkaran.
Menurut Imam Ghazali jika dosa menumpuk pada hati, ia menjadi gelap, sehingga tidak lagi mengenal kebaikan dan tidak pula mengingkari kemungkaran. Bila dosa menumpuk manusia tidak tahu lagi mana makruf dan mana mungkar. Yang mungkar ia kira makruf, yang makruf ia kira mungkar.
Di zaman modern ini lihatlah kelakuan Donald Trump dan Netanyahu. Mereka berdua telah membunuh lebih dari 72 ribu Muslim Palestina, tapi tetap tidak merasa bersalah. Hati kedua pemimpin itu sudah berkarat. Mereka merasa faham Kristen Zionis dan Yahudi Zionis adalah paham terbaik di dunia. Sehingga mereka berusaha menegakkannya, meskipun caranya dengan membunuh ribuan manusia. Mereka sangat benci kalau ada Muslim di negara-negara Barat menjadi pemimpin.
Pemimpin-pemimpin zalim yang hatinya berkarat ini seperti Lenin, Aidit, Mao Ze Dong dan lain-lain. Mereka tidak peduli membunuh manusia ribuan (jutaan), yang pentingnya nafsu kekuasaanya tercapai. Di Timur Tengah juga banyak pemimpin zalim diantaranya: Gamal Abdul Nasser, Abdul Fatah as Sisi dan lain-lain.
Kemungkaran atau kezaliman itu tidak hanya dalam masalah sosial, ekonomi, budaya dan politik. Tapi juga ada kemungkaran dalam bidang keyakinan/aqidah. Al-Qur’an menyatakan,
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS an-Nisa‘ 48)
Sayid Qutb menjelaskan, “Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar… Ia merupakan pelanggaran terhadap hak Allah dalam uluhiyah, yang tidak boleh disekutukan oleh siapa pun. Ia juga berarti kezaliman terhadap diri sendiri, karena menurunkan manusia dari ketinggian tauhid yang mulia ke jurang syirik yang hina. Ia juga merupakan pelanggaran terhadap fitrah yang telah Allah ciptakan pada manusia.”
Bisa diartikan orang kafir itu kegelapannya berlapis. Ia tidak tahu Nabi Muhammad saw itu utusan Allah, manusia terbaik di dunia, dan teladan manusia dalam kehidupan. Ketika manusia kehilangan keteladanan, maka ia mencari-cari teladan pada manusia lain. Akhirnya orang komunis ia jadikan teladan, pembunuh ia jadikan teladan, pezina ia jadikan teladan. Orang-orang itu ia jadikan teladan dalam kehidupan mungkin hanya karena pernah mengucapkan kata-kata yang baik. Ia tidak melihat kehidupan keseluruhan sang teladan, dipenuhi kebaikan atau kemungkaran.
Amar makruf kebanyakan tidak ada resikonya. Tapi nahi mungkar ada resikonya. Apalagi nahi mungkar kepada penguasa resikonya besar. Bisa dihukum mati, dipenjara, dihalangi mendapat dana, dirintangi kegiatan organisasinya dan lain-lain. Karena itu jangan heran banyak ormas di Indonesia mengambil jalan aman dengan penguasa, ‘termasuk sebagian ormas-ormas Islam’.
Padahal seharusnya nahi mungkar itu tetap harus dijalankan ‘apapun resikonya’. Tentu saja seorang Muslim harus bisa mengukur resiko yang terjadi dirinya seperti apa.
Kita yang hidup di Indonesia bersyukur para ulama ‘memilih demokrasi’ sebagai pilar bangsa. Kita bentuknya bukan seperti kerajaan di Timur Tengah, dimana pendapat penguasa adalah satu-satunya yang benar. Rakyat yang pendapatnya berbeda langsung ditangkap, dipenjara bahkan kadang dihukum mati dengan cara yang kejam. Kerajaan bila kita cermati, sebenarnya adalah ‘sistem politik yang ketinggalan zaman’.
Baca: Mengapa Tokoh-Tokoh Islam Masyumi Terima Demokrasi?
Tentu demokrasi bukan sistem yang sempurna. Makanya Mohammad Natsir, Mohammad Hatta (setelah mundur dari Wakil Presiden) dan tokoh-tokoh Masyumi memperjuangkan demokrasi Islam di Indonesia.






