Hanya dengan Amar Makruf Nahi Mungkar, Umat Islam Menjadi Mulia
Dalam sistem yang demokratis sekarang, sayang kalau para dai tidak berani melakukan nahi mungkar kepada penguasa. Penguasa itu harus dikoreksi. Apalagi penguasa yang pemahaman Islamnya dangkal. Penguasa yang haus pujian dan tidak ada motivasi dalam dirinya untuk menjayakan Islam. Penguasa ini cenderung mengikuti nafsu dirinya. Ia merasa paling cerdas. Sehingga tidak peduli terhadap kritik di luar kelompoknya.
Yang mengkhawatirkan kebanyakan anggota kelompok penguasa itu tidak berani mengritik pimpinannya. Mereka senangnya bertepuk tangan dan memuji-muji penguasa. Mereka khawatir kalau mengritik dipecat, tidak diberi jabatan atau dana. Sehingga akhirnya penguasa itu merasa terus benar dengan nafsu, ide-ide dan tindakan dirinya.
Kita patut mengambil teladan ulama Masyumi dalam berpegang teguh pada keyakinan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Ketika Presiden Soekarno melakukan kemungkaran dengan merangkul komunis, mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup dan membubarkan DPR hasil pemilu, Masyumi dengan lantang bersuara keras.
Mereka mengritik keras Soekarno. Hamka dan lain-lain mengeluarkan artikel-artikel tajam mengritik perilaku Soekarno yang akhlaknya sudah rusak. Mereka tidak peduli organisasinya dibubarkan. Bahkan mereka berani menghadapi penjara (yang mungkin sebagian dari kita takut dipenjara).
Tapi keteguhan dalam prinsip itu membawa hikmah besar bagi generasi kemudian. Kesederhaan hidup, kecerdasan dan keteguhan memegang prinsip Islam menjadi cahaya bagi para pejuang Islam saat ini. Pembubaran Masyumi oleh Soekarno tidak menjadikan Islam mandeg tidak berkembang. Justru Islam berkembang dengan pesat. Pesan-pesan Islam yang dikirim dari penjara, menjadi bacaan generasi muda Islam saat itu.
Islam menjadi berkembang pesat di tanah air. Sekolah-sekolah Islam kini bersaing dengan sekolah-sekolah Katolik. Jilbab merebak dan menjadi budaya Indonesia, meski kalangan Islamofobia benci dengan hal ini. Jilbab yang tadinya dilarang di kepolisian dan tentara, kini pun merebak di sana. Ekonomi islam berkembang, bahkan kini diakui pemerintah meskipun masih setengah hati.
Walhasil, Islam adalah jalan satu-satunya solusi bagi kehidupan manusia. Meski penguasa zalim dimana-mana berusaha mencegah perkembangannya. Ia adalah risalah suci yang membawa keadilan, perdamaian dan kebahagiaan sejati bagi manusia di seluruh dunia. Indonesia yang penduduknya mayoritas Muslim, harusnya menjadikan Islam sebagai pedoman tertinggi dalam menata kehidupan di tanah air.
Dalam tafsirnya, Fi Zhilalil Quran, Sayid Qutb menyatakan, ”Sesungguhnya agama ini indah pada zatnya, indah dalam manhajnya, dan indah dalam keseimbangannya antara ruh dan materi.”
Kita sebagai Muslim, harus memperjuangkannya dimanapun kita berada. Wallahu azizun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik





