Iduladha 1447 H, Ponpes Husnul Khotimah Serukan Bangun Peradaban Lewat Tarbiyah Keluarga
Ustaz Fahmi menegaskan bahwa Allah Swt. tidak hanya menjadikan Nabi Ibrahim As. sebagai teladan pribadi, tetapi juga bersama keluarganya.
Hal ini sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah ayat 4 tentang uswatun hasanah (teladan yang baik) dari Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.
Dalam khotbahnya, Ustaz Fahmi memaparkan beberapa pilar penting tarbiyah keluarga dari keteladanan Nabi Ibrahim As.
Pilar-pilar tersebut di antaranya ketuntasan makrifatullah (mengenal Allah) yang melahirkan sikap rida, taat tanpa tapi, pentingnya birrul walidain (berbakti kepada orang tua), membina keluarga dengan tawakal dan syukur, hingga kesabaran dalam mendidik keluarga sepanjang hayat.
Ia juga menyampaikan bahwa pengorbanan dan ketaatan Nabi Ibrahim As. telah melahirkan peradaban besar yang keberkahannya masih dirasakan hingga hari ini.
Berkah tersebut mulai dari syariat kurban, ibadah haji, air zamzam, hingga lahirnya para napi dari keturunan mereka.
“Hamba yang taat tanpa tapi, patuh tanpa syarat,” demikian salah satu penegasan sang khatib dalam menutup khotbah tentang sosok Nabi Ibrahim As.
Khotbah Iduladha tersebut menjadi pengingat bagi seluruh jemaah bahwa kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan.
Ibadah ini juga tentang menyembelih ego, meneguhkan ketaatan, serta membangun keluarga yang kokoh dalam nilai keimanan demi meraih keberkahan dunia dan akhirat.
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Yayasan Husnul Khotimah Kuningan, KH Imam Nur Suharno, mengungkapkan rasa haru bercampur bahagia setelah menyimak materi khotbah yang menggugah tersebut.
“Alhamdulillah, saya pribadi sangat bersyukur dan terharu mendengar khutbah yang disampaikan Ustaz Fahmi tadi. Beliau berhasil mengajak kita semua kembali merenungi bahwa Idul Adha ini bukan hanya tentang menyembelih hewan qurban. Lebih dari itu, ini tentang menyembelih ego kita, meneguhkan ketaatan, dan meneladani keluarga Nabi Ibrahim yang dibangun di atas dasar iman yang kokoh,” ungkap Kiai Imam.
“Saya rasa pesan tarbiyah ailiyah yang beliau sampaikan sangat relevan dengan kita di Husnul Khotimah. Kalau kita ingin melahirkan generasi dan peradaban yang kuat, fondasinya harus dimulai dari keluarga yang taat, sabar, dan saling menguatkan dalam kebaikan. Semoga khutbah ini tidak hanya berhenti di mimbar, tapi benar-benar hidup di rumah-rumah kita,” pungkas Kiai Imam.[]






